Wartatrans.com, BEKASI – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengusulkan agar ada perubahan pada formasi kereta khusus wanita di dalam kereta rel listrik (KRL).
Dari semula di kereta paling depan dan paling belakang, agar diubah menjadi di bagian tengah rangkaian KRL.

Hal itu disampaikannya di sela mengunjungi RSUD Dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, melihat kondisi korban kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listik (KRL) Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).
Arifah menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya saudara-saudara kita akibat kecelakaan ini.
“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan, serta para korban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ungkapnya.
Selain itu dia juga menyampaikan keprihatinan mendalam dan memastikan para korban serta keluarga terdampak mendapatkan penanganan yang optimal, termasuk layanan dukungan psikososial.
“Dalam situasi darurat ini, pemulihan psikologis merupakan bagian yang sangat penting. Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), layanan SAPA 129, serta mitra lainnya agar dukungan psikososial berjalan optimal, mulai dari pendampingan awal, layanan konseling, hingga rujukan lanjutan apabila dibutuhkan,” urainya.
Berdasarkan data Polda Metro Jaya, insiden tersebut mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka – luka.
Upaya penanganan darurat ini melibatkan 163 unit ambulans dikerahkan dari berbagai unsur, termasuk Public Safety Center (PSC) 119, sejumlah RSUD berbagai puskesmas di wilayah Bekasi seperti Karangkitri, Arenjaya, Bekasi Jaya, Duren Jaya, Mustika Jaya, Perumnas 2, Pengasinan, Margajaya, Pondok Gede, dan Pekayon Jaya, serta dukungan dari PMI, Polri, dan relawan.
“Kami mengapresiasi respon cepat dari seluruh unsur yang terlibat, termasuk tenaga kesehatan, rumah sakit, puskesmas, relawan, serta aparat terkait yang telah bergerak cepat melakukan evakuasi, triase, dan penanganan medis. Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh pihak berwenang, termasuk unsur perkeretaapian dan kepolisian,” ujar dia.
Sebagai langkah lebih lanjut, Menteri PPPA menekankan pentingnya pendataan korban secara terpilah berdasarkan jenis kelamin dan usia agar intervensi yang diberikan lebih tepat sasaran dan reponsif terhadap kebutuhan spesifik masing – masing korban.
“Kami akan terus memantau perkembangan penanganan korban dan mendorong agar ruang – ruang layanan memperhatikan aspek keamanan, kenyamanan, dan privasi, terutama bagi perempuan dan anak. Pemerintah dalam hal ini Kemen PPPA dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan melakukan evaluasi bersama untuk semakin mengedepankan aspek keselamatan seluruh penumpang kereta, baik laki – laki, perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas,” tambah Arifah.
Sebagai langkah mitigasi, telah disediakan layanan shuttle bus TransJakarta dengan rute Terminal Bulak Kapal dan Stasiun Bekasi Timur menuju Stasiun Bekasi untuk membantu mobilitas masyarakat terdampak. (omy)





























