Wartatrans.com, JAKARTA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax kembali disebut pemicu perpindahan ke kendaraan listrik murni (Electric Vehicle/EV).
Tapi data 2025 membantah logika itu. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) tidak melonjak. Yang naik justru mobil hybrid.

Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai dampak Pertamax ke BEV masih marginal.
“Potensinya ada, tetapi terbatas pada segmen tertentu saja. Kenaikan Pertamax bisa menjadi dorongan tambahan bagi konsumen _middle upper class_ yang sudah mempertimbangkan EV. Tetapi, keputusan beralih tidak ditentukan oleh harga BBM semata,” ujarnya pada Sabtu (13/6/2026), saat bedah tren otomotif semester I.
Yannes memetakan 3 hambatan struktural BEV di Indonesia. Pertama, harga beli awal. BEV sekelas medium sport utility vehicle (SUV) masih Rp600 juta-Rp900 juta, 40-60% lebih mahal dari mobil mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine/ICE) setara.
Kedua, nilai jual kembali (_resale value_) belum stabil karena kekhawatiran degradasi baterai. Ketiga, infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) belum merata. Sebagian besar masih terkonsentrasi di Jawa dan koridor tol.
Di celah itu, teknologi hybrid, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan Range Extended Electric Vehicle (REEV) jadi pilihan transisi.
“Di sini, hybrid justru berpotensi paling diuntungkan karena menawarkan penghematan BBM tanpa memerlukan infrastruktur charging dan tanpa premi harga setinggi BEV,” tambahnya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan wholesales atau pengiriman pabrik ke diler Januari-Desember 2025 hanya 803.687 unit, turun 7,2% year-on-year_(yoy).
Penjualan ritel ke konsumen, juga 803.687 unit, atau turun 6,3% dibanding 2024 sebesar 889.680 unit.
Ada lonjakan Desember 2025: wholesales 94.100 unit, naik 25,7% yoy karena diskon akhir tahun. Tapi itu bukan efek BEV.
Penjualan mobil murah Low Cost Green Car (LCGC) justru anjlok 30,6% ke 122.688 unit. Segmen LCGC pakai BBM subsidi Pertalite, sehingga kenaikan Pertamax tidak menyentuh pasar terbesar.
Yannes menegaskan faktor makro lebih menekan. “Tekanan utama sales saat ini lebih disebabkan pelemahan daya beli secara keseluruhan daripada harga BBM non-subsidi,” bebernya.
Bank Indonesia (BI) mencatat rasio cicilan terhadap pendapatan rumah tangga perkotaan 2025 naik ke 38%. Konsumen menahan kredit mobil, apalagi BEV yang harganya masih premium.
Melihat kondisi ini, pabrikan Jepang diprediksi memperluas varian _hybrid_ ke segmen menengah-bawah, sambil memasukkan BEV bertahap.
Pola sama terjadi di Thailand. _Hybrid_ butuh investasi lebih rendah, tidak tergantung ekosistem pengisian daya, dan cocok dengan jaringan bengkel eksisting.
Pemerintah lewat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan penjualan mobil nasional 2026 sebesar 850.000 unit. Angka itu hanya sepertiga dari kapasitas pabrik nasional 2,5-2,6 juta unit per tahun.
“Walaupun meningkat sekitar 5,4% dibanding realisasi 2025, target 850.000 unit ini masih belum cukup kuat,” ujar Menperin.
Sampai harga BEV turun, resale value jelas, dan SPKLU tersebar, hybrid akan tetap jadi raja transisi.
Pertamax naik memberi sinyal, tap transisi energi roda empat ditentukan oleh harga mobil, kepercayaan baterai, dan colokan listrik, bukan hanya harga BBM.*** (Artha Tidar)





























