Wartatrans.com, JAKARTA -– Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai reuni para aktivis seni Bulungan yang digelar sebagai ajang temu kangen sekaligus mengenang perjalanan panjang dunia kesenian yang pernah tumbuh dan berkembang di kawasan Bulungan, Jakarta – Ahad (31/05/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momen silaturahmi, tetapi juga sarana untuk mendoakan rekan-rekan seperjuangan yang telah berpulang, di antaranya almarhum Yudistira A. Masardhi, almarhum Radhar Panca Dahana, almarhum Uki Bayu Sejati, serta sejumlah sahabat dan pelaku seni lainnya yang pernah menjadi bagian penting dari dinamika kesenian Bulungan.

Para peserta yang hadir berasal dari beragam disiplin seni, mulai dari pelukis, pegiat teater, penyanyi, hingga aktivis seni lainnya. Keberagaman latar belakang tersebut menjadi bukti bahwa Bulungan pernah menjadi ruang kreatif yang mempertemukan banyak talenta dan melahirkan sejumlah nama yang kini dikenal di bidangnya masing-masing.
Acara dipandu oleh seniman Toto Parwoto yang mengajak para peserta untuk mengenang masa-masa awal berkarya di Bulungan. Dalam suasana penuh nostalgia, mereka berbagi cerita tentang proses kreatif, persahabatan, serta perjuangan membangun ekosistem seni yang saling mendukung.

“Di sini kita bisa menjadi besar karena tidak ada yang saling menjatuhkan. Yang ada justru saling menopang dan saling mendukung,” ujar Toto Parwoto saat membuka sesi diskusi dan kenangan bersama.
Menurut Toto, semangat kebersamaan itulah yang menjadi kekuatan utama komunitas seni Bulungan. Banyak pelaku seni yang kini telah mencapai berbagai pencapaian di bidang masing-masing, namun tetap memiliki ikatan emosional yang kuat dengan tempat yang pernah menjadi rumah kreativitas mereka.
Aktivis seni yang terlihat hadir antara lain Ireng Halimun, Edy Yoen, Lukman, Si Toto, Putra Gara, Ernawan, Heriyus Saputro, Nanoe Anka, Renny Djayoesman, Adri, dan yang lainnya.
Selain menjadi ajang mengenang masa lalu, pertemuan ini juga menegaskan pentingnya menjaga tali persaudaraan di antara para pelaku seni lintas generasi. Bagi mereka, Bulungan bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang yang telah melahirkan gagasan, karya, dan persahabatan yang terus hidup hingga hari ini.
Melalui reuni tersebut, para aktivis seni Bulungan berharap semangat kebersamaan, kolaborasi, dan saling mendukung yang pernah tumbuh kuat di masa lalu dapat terus diwariskan kepada generasi seniman berikutnya.*** (Dulloh)






























