Menu

Mode Gelap
Mulai Besok, ASDP Uji Coba Sterilisasi Pelabuhan Strategis Nasional Merak dan Bakauheni Putri Masyita Ambil Peran Strategis di Balik Layar Film Dosa: Penebusan atau Pengampunan 14 Bandara InJourney Airports Siap Sambut Kepulangan Haji Mulai Besok PTP Nonpetikemas Perkuat Terminalisasi, Bidik Efisiensi dan Pertumbuhan Bisnis Reuni Aktivis Seni Bulungan: Temu Kangen, Mengenang Sahabat, dan Merawat Persaudaraan Patroli Malam Stasioner Cipta Kondisi Polres Pelabuhan Tanjung Priok Amankan Pengendara Mencurigakan

Uncategorized

Catatan Iwan Piliang: Tekukur, Otterinoo, dan Kisah Akhir Pekan

badge-check


 Catatan Iwan Piliang: Tekukur, Otterinoo, dan Kisah Akhir Pekan Perbesar

Wartatrans.com, BALI — Sabtu petang sekitar pukul empat, sebuah peristiwa kecil namun menggetarkan terjadi di halaman rumah. Seekor burung tekukur tiba-tiba jatuh tepat di dekat kaki saya. Tubuhnya limbung, matanya sayu, seolah sedang berjuang mempertahankan sisa tenaga yang dimilikinya.

Saya segera mencoba menolong. Beberapa tetes air saya berikan ke paruhnya. Oom Anton ikut membantu dengan menambahkan air bercampur gula. Kami berharap tenaga sang burung kembali pulih. Namun takdir berkata lain. Upaya kami tidak mampu menyelamatkan nyawanya.

Peristiwa itu mengingatkan saya pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat itu seekor burung merbah kapur jatuh pingsan di halaman rumah. Burung kecil itu berada di tangan Sandra. Dengan penuh kesabaran ia meniup-niup tubuh mungil tersebut hingga akhirnya siuman dan kembali terbang ke alam bebas.

Sejak saat itu, hampir setiap hari antara pukul sepuluh hingga sebelas siang, burung merbah tersebut datang kembali. Ia hinggap di ranting rendah dekat dapur, mengibaskan ekornya sambil mengeluarkan suara khasnya. Setiap kali melihatnya, saya merasa seolah-olah ia sedang menyampaikan pesan sederhana namun mendalam:

“Terima kasih, saya masih ada.”

Mungkin karena peristiwa yang berbeda, mungkin pula karena waktu yang memang telah ditentukan, sang tekukur tidak memperoleh kesempatan yang sama. Ia akhirnya berpulang.

Saya memutuskan memakamkannya di dekat makam Otterinoo, kucing kesayangan keluarga yang tepat pada 25 Mei lalu memasuki hari ke-40 kepergiannya.

Otterinoo memiliki kebiasaan yang selalu saya kenang. Setiap pagi tepat pukul lima ia sudah bangun. Menjelang pukul enam, halaman rumah mulai ramai oleh kedatangan berbagai jenis burung. Kami memang rutin menebarkan makanan untuk mereka. Kicauan memenuhi udara pagi, menghadirkan kehidupan yang sederhana namun menenangkan.

Di tengah keramaian itu, Otterinoo tidak pernah menjadi pemburu. Ia hanya duduk mengamati. Menjadi penonton yang tenang. Burung-burung makan dengan nyaman di sekitarnya tanpa rasa takut.

Mengingat kebiasaan itu, hati saya kembali teriris. Air mata yang mulai mengering kembali menggenang.

Hari wafatnya Otterinoo juga menyimpan kisah tersendiri. Saat ia mengembuskan napas terakhir, saya sedang berada dalam perjalanan dari Solo menuju Bali. Malam sebelumnya saya tidak mendapatkan tiket langsung sehingga harus menempuh perjalanan dengan kereta ke Solo, lalu melanjutkan penerbangan ke Bali.

Pesawat lepas landas sekitar pukul tujuh pagi. Saat itu pula, tanpa saya sadari, Otterinoo sedang menjalani detik-detik terakhir hidupnya. Ketika saya tiba di rumah sekitar pukul sepuluh, tubuhnya sudah kaku.

Kesedihan yang saya rasakan begitu besar. Saya meraung sejadi-jadinya. Dalam kepedihan itu, saya merasa seolah ruh Otterinoo masih berusaha kembali ke tubuhnya. Tubuh yang semula kaku tampak kembali lentur. Dari Jakarta, Sandra yang menyaksikan melalui video bahkan sempat berkata,

“Coba periksa lagi, Ayah. Apa Otterinoo masih bernapas?”

Namun hidup memiliki hukum yang tidak bisa ditawar. Seberapa kuat pun ruh ingin bertahan, ketika jasad sudah tidak mampu lagi menjadi tempat berdiam, maka perpisahan adalah keniscayaan.

Mungkin itulah pelajaran paling nyata yang ditinggalkan Otterinoo.

Pagi ini saya kembali merapikan makamnya. Saya memperlebar bagian tanah di sekelilingnya. Di bagian kepala makam, saya meletakkan jasad tekukur yang kemarin berpulang dengan arah menghadap ke Otterinoo.

Entah mengapa saya memiliki firasat bahwa tekukur ini mungkin salah satu burung yang pernah dikejar Otterinoo. Bukan untuk diburu, melainkan hanya untuk bermain. Sekadar sebuah lompatan kecil yang berlangsung sesaat.

Dan mungkin memang demikianlah hidup.

Hanya sebuah lompatan sekejap di antara dua keheningan.

Kita datang, singgah sebentar, meninggalkan jejak kenangan pada sesama makhluk, lalu pergi ketika waktunya tiba.

Selamat menikmati hari Minggu bersama keluarga tercinta. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan kenangan dan kasih sayang yang kita tinggalkan selama perjalanan singkat itu.***

Bali – 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Reuni Aktivis Seni Bulungan: Temu Kangen, Mengenang Sahabat, dan Merawat Persaudaraan

31 Mei 2026 - 13:55 WIB

Semangat Kebangkitan Bangsa Dalam Sastra Indonesia Kini

30 Mei 2026 - 05:36 WIB

Catatan Iwan Piliang: Menjaga Persahabatan dan Silaturahmi Lama, Bertemu Demer di Kerobokan Bali

30 Mei 2026 - 05:23 WIB

Deepfake AI dan Disrupsi Dunia Kepenulisan Jadi Sorotan Orasi Budaya di Unand

30 Mei 2026 - 05:09 WIB

Catatan Iwan Piliang: Menanam Kebaikan, Menanam Kehidupan

29 Mei 2026 - 09:58 WIB

UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Salurkan Hewan Kurban untuk Warga dan Mahasiswa

28 Mei 2026 - 20:17 WIB

InJourney Hospitality Perkuat Tata Kelola KEK Sanur Lewat Estate Regulation Briefing

28 Mei 2026 - 19:40 WIB

Idul Adha Jadi Momentum PTP Nonpetikemas Perkuat Kepedulian Sosial di Sekitar Pelabuhan

28 Mei 2026 - 19:32 WIB

Ajarkan Ketakwaan Sejak Dini, Halimah Munawir Ajak Cucu Berkurban di Kantor

28 Mei 2026 - 11:57 WIB

Bismika Qurban Salurkan 45 Ekor Hewan Kurban untuk Penyintas Bencana Hidrometeorologi di Aceh

28 Mei 2026 - 11:03 WIB

Trending di Uncategorized