Menu ✖

Mode Gelap
BRI Life Dukung Literasi & Gerakan Road Safety di Kalangan Mahasiswa Kemenhub Optimalisasi Pemanfatan Barang Milik Negara Pelajar se-Sumatera Barat Pentas Bersama dalam Penutupan Workshop Apresiasi Sastra dan Pertunjukan Puisi Catatan Iwan Piliang: Dari Ranah Minang Ke Singapura – Jejak Besar yang Terlupakan  Prabowo Tekankan Kedaulatan Data Nasional, Pemerintah Siapkan UU Satu Data Indonesia IDSurvey Tegaskan Peran Strategis Pemastian Mutu untuk Daya Saing Industri Nasional

PERISTIWA

Selamat Jalan Neknong, Pengisah Jenaka yang Mewariskan Cerita dan Tawa

badge-check


 Selamat Jalan Neknong, Pengisah Jenaka yang Mewariskan Cerita dan Tawa Perbesar

Wartatrans.com, ABDYA – Kabar duka datang dari Desa Kuta Bak Drien, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Aisyah Binti Alipiyah, yang akrab disapa Neknong, telah berpulang ke rahmatullah pada Kamis malam, 29 Oktober 2026, sekitar pukul 23.00 WIB, dalam usia 83 tahun.

Kepergian Neknong meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan orang-orang yang mengenalnya. Ia bukan sekadar sosok ibu dan nenek dalam keluarga, tetapi juga dikenal sebagai perempuan yang penuh cerita, humor, serta memiliki cara bertutur yang khas.

Salah satu orang yang merasakan betul warisan tersebut adalah Nazar Shah Alam atau yang dikenal dengan nama Apache. Baginya, Neknong merupakan sosok penting yang turut membentuk perjalanan kreativitasnya dalam merangkai cerita dan menghidupkan dialog.

Dari kebiasaan Neknong bercerita, Nazar mengaku banyak belajar tentang bagaimana menyusun kisah, menghadirkan dialog yang hidup, serta menyisipkan humor yang mengundang tawa.

Pengaruh itu kemudian melahirkan berbagai karya cerita dan dialog, seperti Suloh, Imang Igob, Gaseng, serta sejumlah kisah jenaka lainnya yang selama ini dinikmati masyarakat melalui lagu.

“Neknong, begitulah kami memanggilnya. Sosok pengisah yang jenaka, ibunda dari ayah kami, perempuan yang sepanjang hidupnya seolah tak pernah kehabisan cerita dan tawa,” ungkap Nazar.

Ia juga mengenang Neknong sebagai perempuan yang memiliki perhatian besar terhadap penampilan. Bahkan, sosok yang disebutnya sebagai perempuan paling cantik itu tidak pernah mau keluar rumah jika pakaian yang dikenakannya belum serasi.

Kepergian di Tengah Tanggung Jawab Pekerjaan

Duka semakin terasa bagi Nazar karena kabar meninggalnya sang nenek diterima ketika dirinya sedang dalam perjalanan menuju Lhokseumawe.

Saat itu, ia tengah memenuhi jadwal penampilan sekaligus penggarapan video yang telah direncanakan untuk keesokan harinya. Kontrak dan komitmen pekerjaan yang sudah disepakati membuatnya berada dalam situasi sulit.

Di satu sisi, ada tanggung jawab profesional yang harus ditunaikan. Namun, di sisi lain, seseorang yang sangat dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya.

“Tuhan yang Maha Baik sekali lagi memberikan ujian kepada saya. Saya benar-benar berada di persimpangan yang begitu berat dan penuh kegelisahan,” tuturnya.

Nazar mengaku masih menyimpan begitu banyak keinginan untuk dilakukan bersama Neknong. Masih banyak cerita yang ingin didengar, kenangan yang ingin diulang, dan waktu yang ingin dihabiskan bersama sosok yang begitu berarti dalam hidupnya.

Namun, ia menyadari bahwa kepergian merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT yang tidak dapat dihindari manusia.

Warisan Cerita yang Tak Akan Pernah Mati

Bagi Nazar, kepergian Neknong bukan berarti berakhirnya seluruh cerita tentang dirinya. Justru, kenangan dan kebiasaan bertutur yang diwariskannya akan terus hidup melalui karya-karya yang lahir dari pengalaman bersama almarhumah.

Usia, menurutnya, hanyalah angka. Sementara kematian merupakan misteri yang tidak pernah diketahui kapan akan datang.

Kini, Neknong telah kembali ke haribaan Sang Pencipta. Keluarga pun berusaha menerima kepergiannya dengan hati yang berat, tetapi penuh keikhlasan.

“Selamat jalan, Neknong. Terima kasih telah mewariskan cerita, tawa, dan kenangan yang tak akan pernah hilang. Mungkin ragamu telah tiada, tetapi suaramu akan terus hidup dalam setiap cerita yang saya tuturkan,” ungkap Nazar dengan penuh haru.

Kepergian Neknong menjadi pengingat bahwa warisan seseorang tidak selalu berupa harta benda. Ada kenangan, nilai kehidupan, kebiasaan, dan cerita yang dapat terus hidup lintas generasi.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhumah, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Selamat jalan, Neknong. Ceritamu akan selalu hidup.***

(Kamaruzzaman)

Baca Lainnya

KPK Dalami Dugaan Korupsi Rp17 Miliar di Pemkab Bogor, Rudy Susmanto Turut Diperiksa

30 Oktober 2026 - 10:37 WIB

KPA Desak Pembebasan Empat Petani Aceh Timur yang Ditangkap Aparat

26 Oktober 2026 - 22:31 WIB

KAI Services Gandeng UMKM Lokal di Sarkemfest 2026 Yogyakarta

26 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Pak Kodir Buka Suara soal Video Viral akun IG Sisters in Danger, Ini Realitanya!

25 Oktober 2026 - 21:58 WIB

Kemenhub Fasilitasi Penyerahan Asuransi 2 Pelaut Wafat Saat Bertugas

25 Oktober 2026 - 18:05 WIB

Jasa Raharja Jamin Biaya Perawatan Pengemudi Ojol Korban Kecelakaan Beruntun di Panglima Polim

25 Oktober 2026 - 17:52 WIB

Pasar Kelapa Dua Ditertibkan, Pedagang Kecil Fakfak Menanti Kepastian Nasib

25 Oktober 2026 - 09:50 WIB

Polri, BNN, dan Bea Cukai Bongkar Jaringan Narkoba Lintas Negara di Aceh dan Sumut

24 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Pabrik Sabu di Pidie Diduga Dikendalikan Jaringan Luar Daerah, Ustaz Ajak Masyarakat Lebih Waspada

24 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Dugaan Jaringan Narkotika Internasional di Pidie, Aparat Diminta Buka Hasil Penyelidikan

23 Oktober 2026 - 14:44 WIB

Trending di PERISTIWA