Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Duka menyelimuti keluarga Bapak Salihin dan Ibu Nurjanah di Kampung Pendere Saril, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah. Sebuah musibah kebakaran menghanguskan lantai dua rumah mereka yang berlokasikan strategis di pinggir Jalan Lintas Yos Sudarso (Takengon-Meulaboh), pada Selasa sore (15/9/2026) sekitar pukul 15.50 WIB. (Catatan: Waktu 15.50 WIB dikoreksi menjadi “sore” karena bukan dini hari).
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, musibah tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi sang putri, Risa Mahyana (28), serta kerugian materiil yang diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Detik-Detik Mencekam: Tidur Pulas di Tengah Api
Kebakaran diduga kuat akibat arus pendek listrik yang bermula dari lantai dua bangunan. Struktur rumah yang terdiri dari lantai satu beton dan lantai dua papan membuat api dengan cepat melahap area hunian utama.
Situasi sempat mencekam karena Risa Mahyana, yang bekerja sebagai guru paruh waktu di SD 18 Pegasing, sedang tertidur pulas di dalam rumah saat kobaran api mulai membesar. Ia tidak menyadari bahaya yang mengancam nyawanya hingga warga yang melihat asap tebal dari luar berteriak histeris meminta bantuan.
“Warga yang melihat langsung berhaburan berteriak bahwa terjadi kebakaran. Saat itu Risa masih tidur dan tidak tahu apa-apa,” ujar seorang saksi mata di lokasi.
Beruntung, kesadaran dan kepedulian warga setempat menyelamatkan situasi. Masyarakat bahu-membahu mengevakuasi barang-barang berharga yang berada di bagian bawah rumah sebelum api menjalar, termasuk sebuah mobil yang berhasil diselamatkan dari garasi dan distarter tepat waktu.
Sinergi Warga dan Kepolisian: Pengamanan Lalu Lintas Jadi Kunci Evakuasi
Di tengah kekacauan akibat padatnya kendaraan di jalan lintas nasional, kehadiran personel Gabungan Reserse Criminal Bureau (Gerceb) Polsek Bebesen dan Polantas Aceh Tengah menjadi penolong utama. Mereka segera mengambil alih pengaturan arus lalu lintas di titik kejadian, memastikan jalur evakuasi tetap terbuka dan aman bagi warga yang berlarian menyelamatkan barang serta kedatangan petugas pemadam kebakaran.

Tindakan sigap kepolisian ini mencegah kemacetan yang bisa menghambat proses penyelamatan, sekaligus melindungi warga dari risiko kecelakaan di tengah kepanikan. Sinergi antara ketertiban aparat dan gotong royong masyarakat inilah yang memungkinkan evakuasi berjalan efektif meski lokasi berada di jalur sibuk.
Sosok Pahlawan Warga: Mantan Paramedis Bergerak Cepat
Sebelum kepolisian tiba, sosok Bapak Agustian, seorang pensiunan paramedis, telah tampil lebih dulu sebagai pahlawan warga. Melihat asap api membumbung dari lantai dua, ia dengan refleks berteriak minta tolong dan menghentikan kendaraan yang melintas di jalan raya lintas Takengon-Meulaboh untuk segera menghubungi petugas Pemadam Kebakaran. Tindakan cepatnya menjadi kunci awal datangnya bantuan sebelum api menghabiskan seluruh bangunan.
Kerugian Puluhan Juta dan Luka Batin
Akibat kebakaran ini, keluarga mengalami kerugian materiil yang tidak sedikit. Peralatan penting seperti laptop, ijazah asli, uang tunai, dan berbagai barang berharga lainnya hangus terbakar. Nilai kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah, sebuah pukulan berat bagi keluarga pendidik ini.
Ibu Nurjanah, yang juga merupakan guru TPA SDLB di Kecamatan Pegasing, dikabarkan syok berat hingga pingsan saat mengetahui rumahnya terbakar. Ia sempat dilarikan ke rumah tetangga di seberang jalan untuk mendapatkan pertolongan pertama akibat guncangan emosi yang hebat. Sementara Bapak Salihin dan Ibu Nurjanah bersyukur tidak berada di rumah saat kejadian, namun kondisi psikologis keluarga saat ini masih sangat terguncang.
Solidaritas Warga Pendere Sari
Musibah ini kembali menunjukkan eratnya tali persaudaraan di Kampung Pendere Sari. Selain membantu evakuasi barang dan mobil, kehadiran warga juga memberikan kekuatan moral bagi keluarga yang sedang dilanda duka.
Hingga berita ini diturunkan, proses pembersihan puing dan pendataan kerugian masih berlangsung. Keluarga besar SD 18 Pegasing dan masyarakat Bebesen turut berduka cita atas musibah yang menimpa rekan sejawat dan tetangga mereka, serta berharap agar Risa Mahyana dan keluarga dapat segera bangkit dari trauma ini.*** (Jasa)































