Menu

Mode Gelap
Siswa MTs Pati Kehilangan Dua Jarinya, Diduga Karena Perundungan Siap – Siap, Pertengahan Agustus 2026 Indonesia Hujan Meteor Perseid TISI Luncurkan Antologi Puisi Dwi Bahasa “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku”, Octavianus Masheka: Bahasa Daerah Bagian dari Sejarah Perjuangan Kemerdekaan BRIN: Rel Tua 120 Tahun Rangkasbitung-Labuan Direaktivasi KKP Proyeksikan Tambak Udang Terintegrasi Sumba Timur Hasilkan Rp4 Triliun per Tahun EAZI Percepat Layanan Logistik Nasional, Terminal Teluk Lamong Sabet Radar Surabaya Awards 2026

TEKNOLOGI

Siap – Siap, Pertengahan Agustus 2026 Indonesia Hujan Meteor Perseid

badge-check


 Siap – Siap, Pertengahan Agustus 2026 Indonesia Hujan Meteor Perseid Perbesar

Wartatrans.com, SEMARANG — Fenomena astronomi paling dinanti tahun 2026 akan datang di Indonesia pada 12–13 Agustus 2026. Sebagian wilayah tanah air akan hujan meteor Perseid. Waktunya mulai tengah malam hingga jelang fajar.

Perseid berasal dari puing – puing komet 109P/Swift – Tuttle . Mereka jatuh ke bumi setiap bulan Agustus. Serpihan puing angkasa yang berinteraksi dengan atmosfer bumi akan menciptakan hujan meteor.

Momen tahun ini bertepatan langsung dengan fase Bulan Baru, dimana langit malam akan bertambah gelap akibat bebas total dari interferensi cahaya alami bulan.

Semua peristiwa menakjubkan ini juga terjadi karena lintasan bumi menembus tumpukan debu kosmik sisa komet Swift – Tuttle. Gesekan material debu komet dan atmosfer bumi menghasilkan energi panas berkecepatan tinggi.

Masyarakat dan pengamat bintang Indonesia dapat melihat fenomena alam ini dengan mengarahkan pandangan langsung ke horizon utara mulai pukul 00.30 WIB. Awal kemunculan meteor diprediksi terletak tepat di sekitar posisi konstelasi perseus. Kedudukan titik tersebut merambat naik perlahan saat menuju dini hari. Waktu terbaik menikmati atraksi ini adalah mulai jam 02.00 pagi hingga menjelang terbit matahari.

Jumlah guguran meteor yang melewati Indonesia diperkirakan mencapai 15 sampai 30 kilatan cahaya per jam. Menariknya, semua tampak lebih terang dibanding tahun sebelumnya. Ini karena tahun ini langit tidak terganggu sinar Bulan.

Untuk melihatnya, manusia hanya memerlukan mata telanjang. Penggunaan alat optik seperti teleskop justru tidak disarankan karena lensanya punya bidang pandang sempit. Hal ini menyulitkan pelacakan kecepatan pergerakan meteor. Beda dengan mata yang dapat memberi sudut pandang luas dalam menangkap tiap kejutan garis cahaya di langit.

Agar penglihatan makin maksimal, usahakan ada di suasana gelap murni di luar area perkotaan. Lokasi terpencil seperti dataran tinggi pegunungan atau kawasan pantai adalah tempat paling ideal. Lampu-lampu perkotaan yang terlalu benderang dapat mengaburkan pendar cahaya meteor ukuran kecil.*** (Aditiya WP)

Baca Lainnya

Pelindo Regional 2 Sunda Kelapa dan KSOP Gelar Evaluasi Kinerja Operasional Triwulan II

31 Juli 2026 - 09:16 WIB

Terminal Teluk Lamong Gandeng BRIN, Perkuat Komitmen Hijau Lewat Riset Keanekaragaman Hayati

31 Juli 2026 - 08:58 WIB

KKP dan ITB Kembangkan Monitoring dan Konservasi Penyu Berbasis Semi-Digital di Sabu Raijua

31 Juli 2026 - 08:35 WIB

Arus Petikemas IPC TPK Panjang Tumbuh Signifikan 73,7 Persen pada Juni 2026

29 Juli 2026 - 18:56 WIB

IPCC Jaga Kinerja Operasional di Tengah Pelemahan Pasar Kuartal II 2026

28 Juli 2026 - 15:17 WIB

Hadapi Dinamika Global, IPCC Bukukan Pertumbuhan Kinerja Keuangan Berkelanjutan pada Semester I 2026

27 Juli 2026 - 21:00 WIB

Pelindo Regional 2 Banten Perkuat Kinerja, Operasional Tumbuh Positif pada Semester I 2026

25 Juli 2026 - 08:47 WIB

Perkuat Budaya K3, TPK Teluk Lamong Gelar Safety Forum untuk Operasional Andal

24 Juli 2026 - 08:14 WIB

Pelindo Dorong Tarif Jasa Pemanduan dan Penundaan yang Transparan dan Berkelanjutan

23 Juli 2026 - 16:11 WIB

DAMRI Dukung Kehadiran Bus Hydrogen–Diesel Dual Fuel Pertama di Indonesia

22 Juli 2026 - 14:30 WIB

Trending di NASIONAL