Menu

Mode Gelap
Aksi Jujur Petugas Cleaning KAI Services Kembalikan Dompet Penumpang Tuai Pujian Netizen 5,5 Juta Penumpang Kereta Api Pakai Face Recognition pada Semester I 2026, Hemat Kertas Setara 75 Pohon Garuda Indonesia Berhasil Capai Ketepatan Waktu Terbang 94,3% Selama Operasional Haji 2026 10 Hari, Bandara Soekarno-Hatta Sukses Layani 20.335 Jemaah Umrah dari Terminal 2F 6 Maskapai Ajukan Buka Rute ini dari dan ke Bandara Husein Sastranegara Pelindo dan Pemprov Sumsel Dorong Percepatan Pembentukan BUP Tanjung Carat

Uncategorized

Bedah Novel di Distrik Gintung Bahas Cinta, Perjuangan, dan Ruang Literasi

badge-check


 Bedah Novel di Distrik Gintung Bahas Cinta, Perjuangan, dan Ruang Literasi Perbesar

Wartatrans.com, TANGSEL — Sebuah diskusi sastra berlangsung di Distrik Gintung, Pasar Gintung, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Sabtu, 13 Juni 2026. Novel Siluet Cinta Sang Bintang Kejora karya Anggie D. Widowati dibedah dalam forum yang menghadirkan Arie F. Batubara sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Ireng Halimun.

Kegiatan yang dihadiri pegiat literasi dan pencinta buku itu membahas sejumlah aspek dalam novel, mulai dari konstruksi cerita, pengembangan tokoh, hingga tema-tema yang diangkat penulis.

Diskusi berlangsung dalam suasana santai dan interaktif, dengan peserta turut menyampaikan pandangan serta pertanyaan mengenai karya tersebut.
Arie F. Batubara menilai karya sastra memiliki fungsi lebih dari sekadar hiburan. Menurut dia, novel dapat menjadi medium untuk membaca realitas sosial sekaligus memahami pengalaman manusia dari berbagai sudut pandang.

Dalam pembahasan, peserta menyoroti bagaimana novel Siluet Cinta Sang Bintang Kejora menghadirkan kisah tentang cinta, harapan, dan perjuangan hidup yang dekat dengan pengalaman keseharian. Narasi yang dibangun penulis dinilai memberi ruang bagi pembaca untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup dan relasi antarmanusia.

Ireng Halimun, yang memandu jalannya acara, mengarahkan diskusi agar tidak hanya berfokus pada isi cerita, tetapi juga pada proses kreatif yang melatarbelakangi lahirnya sebuah karya sastra. Pendekatan tersebut membuka ruang dialog antara pembaca, penulis, dan pemerhati literasi yang hadir.

Di tengah tantangan menurunnya minat baca dan dominasi media digital, forum-forum sastra semacam ini masih menjadi ruang penting bagi tumbuhnya budaya literasi. Selain memperkenalkan karya kepada publik, kegiatan bedah buku juga menjadi sarana untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan apresiasi terhadap sastra Indonesia.

Melalui pertemuan itu, novel tidak hanya dibicarakan sebagai produk kreatif, tetapi juga sebagai bagian dari upaya merawat tradisi membaca dan membangun percakapan budaya di tengah masyarakat.*** (Septiadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sanggar Oloh Guwel Iringi Parade Puisi 14 Negara pada PPN XIV Aceh di Aceh Tengah

13 Juli 2026 - 11:11 WIB

Tari Bines Gayo Lues Memukau Penonton pada PPN XIV Aceh di Temas River Park

12 Juli 2026 - 22:50 WIB

Seni Gayo Kepung Jakarta, Pegayon Pentaskan Warisan Leluhur Tanoh Gayo

12 Juli 2026 - 20:02 WIB

Titiek Soeharto Apresiasi BUBK Kebumen, Produksi Udang Siklus ke-8 Diproyeksi Capai 254,5 Ton

12 Juli 2026 - 19:58 WIB

Gedung GOS Resmi Berubah Fungsi Menjadi Taman Budaya Negeri Gayo

11 Juli 2026 - 12:44 WIB

Bima Alfath Perkenalkan Single “Cinta Tak Bernyawa”, Siap Tampil Perdana di Panggung NEW CELEBRITY

11 Juli 2026 - 12:18 WIB

Akhirnya, Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus

11 Juli 2026 - 07:53 WIB

HSBI Peringati Hari Sastra dengan Pentas Seni di Padepokan Mahagenta

11 Juli 2026 - 01:06 WIB

Nina Nugroho Bergabung dengan IKAC, Wujud Pengabdian untuk Kampung Halaman

10 Juli 2026 - 20:41 WIB

Febrie Setelah Digeledah Tegaskan Tidak Mundur, Penanganan Kasus Asabri hingga MBG Tetap Berjalan

10 Juli 2026 - 18:07 WIB

Trending di PERISTIWA