Wartatrans.com, JAKARTA – Mikromobilitas diproyeksikan menjadi salah satu penggerak baru industri kendaraan listrik nasional. Pemerintah menargetkan populasi e-bike atau sepeda listrik kayuh mencapai 4,5 juta unit pada 2035 melalui peta jalan yang disusun Kementerian Perindustrian bersama Japan International Cooperation Agency (JICA). Dengan harga e-bike di pasar berkisar sekitar Rp4 juta hingga lebih dari Rp13 juta per unit, target tersebut mencerminkan potensi pasar domestik bernilai puluhan triliun rupiah sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri komponen dalam negeri.
Perkembangan itu terjadi ketika industri global mulai menggeser fokus dari sekadar elektrifikasi menuju kendaraan yang lebih cerdas. Volkswagen baru-baru ini memperkenalkan e-bike yang dilengkapi radar dan kacamata head-up display untuk membantu pengendara mendeteksi potensi bahaya di jalan. Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa persaingan industri kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas baterai dan jarak tempuh, tetapi juga teknologi keselamatan, konektivitas, dan pengalaman berkendara.

Berbeda dengan sepeda listrik bergaya skuter atau e-moped, e-bike menggunakan sistem pedal assist, yakni motor listrik hanya memberikan bantuan tenaga ketika pengendara mengayuh pedal melalui sensor kayuhan atau sensor torsi. Teknologi tersebut membuat pengguna tetap beraktivitas fisik dengan bantuan tenaga listrik saat menghadapi tanjakan atau perjalanan yang lebih jauh. Selain hemat energi, biaya operasional dan perawatan e-bike juga relatif lebih rendah sehingga mulai dilirik sebagai moda transportasi harian di kawasan perkotaan.
Tren tersebut mulai diikuti produsen dalam negeri. Selis, yang memproduksi sepeda listrik sejak 2007, kini membedakan lini e-bike dan e-moped. Model SOI, Tornado, Storm, Roadmaster 2.0, Uco 20, dan Swan dipasarkan sebagai e-bike, sedangkan Sanur, Mino, Galaxy, Anyer, serta Kolibri masuk kategori e-moped. United Bike juga mengembangkan lini e-series berupa folding e-bike, sementara Polygon memperluas portofolio e-bike untuk kebutuhan komuter, olahraga, dan rekreasi.
Pemerintah terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan pendalaman industri komponen. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi pada Juli 2026 mengingatkan bahwa daya saing industri tidak cukup dibangun melalui perakitan kendaraan. “Kalau memang mau serius, jangan cuma rakitan. Baterai, motor penggerak, hingga controller itu yang harus dibuat di sini,” ujarnya. Menurutnya, penguasaan komponen inti akan menentukan daya saing industri kendaraan listrik Indonesia dalam jangka panjang sekaligus membuka peluang ekspor.
Namun, pertumbuhan industri harus diimbangi pembangunan ekosistem mikromobilitas. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan pada April 2026 bahwa keamanan dan kenyamanan masih menjadi tantangan utama. “Selama aspek keamanan dan kenyamanan belum terjamin, sepeda akan sulit bertransformasi menjadi moda transportasi utama,” ujarnya. Menurut Djoko, pembangunan jalur sepeda yang aman dan terhubung dengan angkutan umum menjadi syarat agar e-bike dapat berkembang sebagai bagian dari sistem transportasi perkotaan.
Keberhasilan mencapai target 4,5 juta e-bike pada 2035 pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah kendaraan yang beredar. Lebih dari itu, keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia membangun rantai pasok domestik, memperkuat industri komponen, menghadirkan inovasi teknologi, serta mengintegrasikan mikromobilitas ke dalam sistem transportasi perkotaan. Jika seluruh prasyarat tersebut terpenuhi, e-bike berpotensi menjadi salah satu motor pertumbuhan baru industri manufaktur nasional sekaligus mendukung transisi menuju transportasi rendah emisi.*** (Artha Tidar)






























