Menu ✖

Mode Gelap
Indonesia Raih Kenaikan Kuota Tuna Sirip Biru Selatan 25 Persen, Jadi 1.670 Ton per Tahun Sambut Lima Abad Jakarta, Buku Kumpulan Cerpen Lebaran di Jakarta Hadirkan Jejak Budaya Betawi Stasiun Payakabung Layani 21.722 Pelanggan Pada Triwulan III 2026 Kemenhub Gelar Monitoring dan Evaluasi Penutuhan Kapal di Batam Aliansi Masyarakat Sipil Laporkan Proyek RS Pendidikan Untad Rp172 Miliar ke Kejati Sulteng TPPAS Lulut Nambo dan Pengelolaan Sampah dari Hulu, H. Fikri Hudi Dorong Kolaborasi Masyarakat

JALUR

Dari Skuter Listrik ke E-Bike, Industri Mikromobilitas Indonesia Mulai Bergerak

badge-check


 Dari Skuter Listrik ke E-Bike, Industri Mikromobilitas Indonesia Mulai Bergerak Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Mikromobilitas diproyeksikan menjadi salah satu penggerak baru industri kendaraan listrik nasional. Pemerintah menargetkan populasi e-bike atau sepeda listrik kayuh mencapai 4,5 juta unit pada 2035 melalui peta jalan yang disusun Kementerian Perindustrian bersama Japan International Cooperation Agency (JICA). Dengan harga e-bike di pasar berkisar sekitar Rp4 juta hingga lebih dari Rp13 juta per unit, target tersebut mencerminkan potensi pasar domestik bernilai puluhan triliun rupiah sekaligus membuka peluang tumbuhnya industri komponen dalam negeri.

Perkembangan itu terjadi ketika industri global mulai menggeser fokus dari sekadar elektrifikasi menuju kendaraan yang lebih cerdas. Volkswagen baru-baru ini memperkenalkan e-bike yang dilengkapi radar dan kacamata head-up display untuk membantu pengendara mendeteksi potensi bahaya di jalan. Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa persaingan industri kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas baterai dan jarak tempuh, tetapi juga teknologi keselamatan, konektivitas, dan pengalaman berkendara.

Berbeda dengan sepeda listrik bergaya skuter atau e-moped, e-bike menggunakan sistem pedal assist, yakni motor listrik hanya memberikan bantuan tenaga ketika pengendara mengayuh pedal melalui sensor kayuhan atau sensor torsi. Teknologi tersebut membuat pengguna tetap beraktivitas fisik dengan bantuan tenaga listrik saat menghadapi tanjakan atau perjalanan yang lebih jauh. Selain hemat energi, biaya operasional dan perawatan e-bike juga relatif lebih rendah sehingga mulai dilirik sebagai moda transportasi harian di kawasan perkotaan.

Tren tersebut mulai diikuti produsen dalam negeri. Selis, yang memproduksi sepeda listrik sejak 2007, kini membedakan lini e-bike dan e-moped. Model SOI, Tornado, Storm, Roadmaster 2.0, Uco 20, dan Swan dipasarkan sebagai e-bike, sedangkan Sanur, Mino, Galaxy, Anyer, serta Kolibri masuk kategori e-moped. United Bike juga mengembangkan lini e-series berupa folding e-bike, sementara Polygon memperluas portofolio e-bike untuk kebutuhan komuter, olahraga, dan rekreasi.

Pemerintah terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan pendalaman industri komponen. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi pada Juli 2026 mengingatkan bahwa daya saing industri tidak cukup dibangun melalui perakitan kendaraan. “Kalau memang mau serius, jangan cuma rakitan. Baterai, motor penggerak, hingga controller itu yang harus dibuat di sini,” ujarnya. Menurutnya, penguasaan komponen inti akan menentukan daya saing industri kendaraan listrik Indonesia dalam jangka panjang sekaligus membuka peluang ekspor.

Namun, pertumbuhan industri harus diimbangi pembangunan ekosistem mikromobilitas. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengatakan pada April 2026 bahwa keamanan dan kenyamanan masih menjadi tantangan utama. “Selama aspek keamanan dan kenyamanan belum terjamin, sepeda akan sulit bertransformasi menjadi moda transportasi utama,” ujarnya. Menurut Djoko, pembangunan jalur sepeda yang aman dan terhubung dengan angkutan umum menjadi syarat agar e-bike dapat berkembang sebagai bagian dari sistem transportasi perkotaan.

Keberhasilan mencapai target 4,5 juta e-bike pada 2035 pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah kendaraan yang beredar. Lebih dari itu, keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia membangun rantai pasok domestik, memperkuat industri komponen, menghadirkan inovasi teknologi, serta mengintegrasikan mikromobilitas ke dalam sistem transportasi perkotaan. Jika seluruh prasyarat tersebut terpenuhi, e-bike berpotensi menjadi salah satu motor pertumbuhan baru industri manufaktur nasional sekaligus mendukung transisi menuju transportasi rendah emisi.*** (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Aturan Transportasi Berbasis Aplikasi Masuk dalam Revisi UU LLAJ

12 Oktober 2026 - 05:19 WIB

Kenalkan Energi Masa Depan, DAMRI Hadirkan Bus H2 DDF di Hydrogen Day 2026

11 Oktober 2026 - 19:43 WIB

Pentingnya Penanganan Penertiban Kendaraan ODOL di Pelabuhan untuk Keselamatan

11 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Menhub Dudy Pastikan Diskon Perjalanan di Libur Nataru Kembali Ada

10 Oktober 2026 - 18:27 WIB

Kemenhub Perkuat Aksi Nyata Penanganan Kendaraan ODOL di Jatim

10 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Naik JakLingko dari Stasiun MRT Mulai Senin dapat Gunakan Semua Jenis Kartu Uang Elektronik

10 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Penguatan Perlindungan Hak Ojol, Menhub Dudy: Keselamatan Prioritas Utama!

10 Oktober 2026 - 11:07 WIB

Grab Hormati Terbitnya Perpres No 27 Tahun 2026 dan Segera Pelajari Isinya

10 Oktober 2026 - 08:38 WIB

DAMRI Resmi Hubungkan Putussibau dan Kuching, Perkuat Konektivitas Indonesia–Malaysia

9 Oktober 2026 - 05:16 WIB

Kemenhub Dorong Integrasi Transportasi dan Tata Ruang pada KBT

8 Oktober 2026 - 19:17 WIB

Trending di JALUR