Wartatrans com, JAKARTA – Keberhasilan Timnas Spanyol menjuarai Euro 2024 dan melaju ke final Piala Dunia 2026, menegaskan perubahan besar dalam cara mereka membangun serangan. Dalam satu dekade terakhir, sepak bola modern semakin menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh ketajaman seorang striker. Spanyol menjadi contoh paling nyata bahwa distribusi gol dan kolektivitas kini lebih menentukan dibanding ketergantungan pada satu penyerang tengah.
Saat menjuarai Piala Dunia 2010 di bawah asuhan Vicente del Bosque, Spanyol masih memiliki David Villa sebagai penyelesai akhir. Dari delapan gol yang dicetak sepanjang turnamen, Villa menyumbang lima gol atau sekitar 62,5 persen. Meski Xavi Hernández, Andrés Iniesta, dan Sergio Busquets mengendalikan permainan melalui gaya tiki-taka, efektivitas serangan tetap bertumpu pada ketajaman Villa di depan gawang.

Transformasi mulai terlihat pada Euro 2012 ketika Del Bosque beberapa kali memainkan Cesc Fàbregas sebagai false nine. Meski masih memiliki Fernando Torres dan Álvaro Negredo, pendekatan tersebut berhasil membawa La Furia Roja mempertahankan gelar juara Eropa. Keberhasilan itu menjadi awal perubahan bahwa dominasi permainan tidak lagi harus dibangun di sekitar seorang target man.
Filosofi tersebut mencapai bentuk yang lebih matang di bawah pelatih Luis de la Fuente. Pada Euro 2024, Álvaro Morata tetap menjadi penyerang tengah, tetapi perannya berubah. Ia lebih sering memimpin pressing, membuka ruang, dan menghubungkan permainan daripada menjadi penyelesai akhir. Sebagian besar gol Spanyol justru lahir dari Dani Olmo, Fabián Ruiz, Nico Williams, Lamine Yamal, Mikel Oyarzabal, dan Mikel Merino sehingga ancaman datang dari berbagai lini.
Perubahan itu dipengaruhi evolusi taktik sepak bola modern. Intensitas pressing, transisi cepat, dan rotasi posisi yang semakin tinggi membuat penyerang tidak lagi cukup hanya menunggu umpan di kotak penalti. Mereka juga dituntut aktif merebut bola, menarik bek lawan keluar dari posisinya, serta membuka ruang bagi pemain sayap maupun gelandang yang melakukan pergerakan dari lini kedua.
Fenomena serupa juga terlihat di berbagai klub elite Eropa. Banyak pelatih kini lebih mengutamakan penyerang yang mampu bekerja tanpa bola, menghubungkan permainan, dan menjalankan tugas taktis dibanding sekadar menjadi mesin gol. Jurnalis dan analis taktik sepak bola asal Inggris, Jonathan Wilson, dalam bukunya Inverting the Pyramid menjelaskan bahwa batas antarposisi dalam sepak bola modern semakin kabur. Penyerang tidak lagi dinilai hanya dari jumlah gol, tetapi juga dari kemampuan melakukan pressing, membuka ruang, menghubungkan permainan, serta mendukung organisasi tim agar rekan setim memperoleh peluang yang lebih baik.
Bagi negara yang sedang membangun pembinaan sepak bola, termasuk Indonesia, pelajaran dari Spanyol bukanlah menghapus peran nomor 9. Yang berubah adalah cara memaksimalkan peran tersebut. Akademi tetap harus melahirkan penyerang yang tajam, tetapi juga cerdas secara taktik, mampu melakukan pressing, membaca ruang, dan beradaptasi dengan berbagai peran. Jika pada 2010 Spanyol menjadi juara dunia berkat ketajaman David Villa, maka pada era Luis de la Fuente,mereka membuktikan bahwa distribusi gol yang merata, dapat menjadi fondasi keberhasilan di level tertinggi.***
(Artha Tidar)






























