Menu

Mode Gelap
Catatan Iwan Piliang: Di Balik Pidato Prabowo – Di Antara Omon-Omon dan Upaya Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Duet Air Kemasan Kuasai 71,6 Persen Pasar AMDK, Pengamat Soroti Potensi Oligopoli BEM-TR Soroti Temuan BPK, Nilai Target Zero Defisit Harus Diiringi Perbaikan Tata Kelola Keuangan Kemendagri dan Pemerintah Aceh Fasilitasi Penyelesaian Batas Wilayah Subulussalam–Aceh Selatan Audi Luncurkan The New Q5 Sportback di Indonesia, Bidik Segmen SUV Premium Rp1,9 Miliar Kejar Cuan Rp100 Triliun, Kemenpora Pangkas 1.440 Pasal untuk Genjot Industri Olahraga

JALUR

Mengintip Angkutan Sekolah Gratis di Tulungagung, Transportasi Aman

badge-check


 Ciri khas bus sekolah gratis berwarna kuning Perbesar

Ciri khas bus sekolah gratis berwarna kuning

Penulis: Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata

Wartatrans.com, SEMARANG – Angkutan sekolah gratis bukan sekadar perjalanan, namun telah membawa perubahan sosial dan ekonomi. 

Kabupaten Tulungagung, yang dikenal luas sebagai salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia dan kerap dijuluki Bumi Marmer atau Kota Cethe, memiliki beragam keunggulan yang membuatnya menonjol di Jawa Timur.

Keunggulan tersebut mencakup potensi besar di sektor ekonomi, kekayaan pariwisata, dan warisan budaya yang unik.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung, melalui Dinas Perhubungan, telah menyelenggarakan program bus sekolah gratis sejak tahun 2013.

Layanan ini diperuntukkan bagi seluruh pelajar dari tingkat SD hingga SMA, baik di wilayah perkotaan maupun pinggiran.

Karena layanan ini diberikan secara gratis tanpa pungutan biaya, program ini telah terbukti sangat signifikan dalam meringankan beban ekonomi keluarga di Tulungagung.

Program ini memiliki tiga tujuan utama yang saling mendukung. Pertama, program ini bertujuan mengurangi ketergantungan pelajar pada kendaraan pribadi, yang secara langsung berkontribusi pada penekanan angka kecelakaan lalu lintas.

Kedua, upaya menumbuhkan budaya penggunaan transportasi publik dan disiplin waktu di kalangan pelajar sejak dini. Ketiga, program ini diposisikan sebagai embrio penting bagi pembangunan sistem angkutan umum massal perkotaan yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Banyak siswa harus berjuang mencapai sekolah karena ketiadaan transportasi umum yang memadai. Sebagian besar siswa, hingga lebih dari 60 persen terpaksa menggunakan sepeda motor pribadi meski jarak tempuh kurang dari 10 km, yang sayangnya meningkatkan risiko kecelakaan secara signifikan.

Situasi ini diperparah dengan matinya angkutan pedesaan (ANGDES), sementara biaya transportasi harian menjadi beban berat bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Angkutan sekolah dioperasikan pukul 05.30–07.00 dan 12.30–14.00 dengan kecepatan rencana 40 km/jam.

Ada Perubahan

Sebelum adanya bus sekolah, situasi transportasi pelajar di Tulungagung dipenuhi tantangan.

Banyak siswa terpaksa mengandalkan sepeda motor pribadi atau berboncengan, menciptakan risiko kecelakaan yang tinggi.

Secara ekonomi, keluarga harus mengeluarkan biaya rutin yang memberatkan, sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 per bulan. Selain itu, tingkat kehadiran siswa sering tidak stabil, terutama saat cuaca buruk atau bila terdapat kendala operasional MPU (Mobil Penumpang Umum).

Di jalan raya, lebih dari 300 kendaraan pribadi siswa setiap hari menyebabkan kepadatan dan berkontribusi pada polusi udara.

Sejak program angkutan sekolah gratis dioperasikan, perubahan positif yang terjadi sungguh signifikan. Di bidang keselamatan, kasus kecelakaan yang melibatkan siswa telah menurun hingga 27 persen sejak program dimulai.

Selain itu, transportasi yang kini gratis memberikan penghematan fantastis bagi keluarga penerima manfaat, mencapai Rp3,6 juta per tahun per keluarga.

Dampak positif juga terlihat pada pendidikan, di mana tingkat kehadiran sekolah meningkat 12 persen, terutama pada rute-rute utama yang terlayani. Secara keseluruhan, berkurangnya kendaraan pribadi di jalan juga menjadikan lalu lintas lebih tertib dan emisi karbon menurun secara signifikan.

Dampak bus sekolah sangatlah nyata dan transformatif. Layanan ini tidak hanya memastikan kehadiran siswa meningkat hingga 12 persen di sekolah yang dilayani, tetapi juga membantu lebih dari 1.500 pelajar per hari berangkat dengan aman.

Kehadiran bus sekolah terbukti menurunkan risiko kecelakaan; tercatat penurunan 27 persen insiden lalu lintas yang melibatkan pelajar sejak tahun 2015.

Selain manfaat keselamatan, program ini juga meringankan beban ekonomi, memungkinkan keluarga menghemat biaya transportasi antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per bulan per siswa.

Dana dapat dialihkan untuk kebutuhan penting lainnya. Dari sisi lingkungan, operasional bus ini mendukung efisiensi dan ramah lingkungan dengan mengurangi lebih dari 300 kendaraan pribadi di jalan setiap hari, menghemat sekitar 1.200 liter bahan bakar per bulan dan menekan emisi karbon lokal.

Data berdasarkan kajian Bappeda Tulungagung. Armada saat ini sebanyak 9 bus ditambah 33 MPU yang bisa baru melayani 16 dari 233 sekolah.

Cakupan layanan baru mencapai sekitar 30 persen wilayah pendidikan utama. Tantangannya kapasitas terbatas, tumpang tindih rute, dan armada menua

Hasil Evaluasi

Berdasarkan kajian yang dilakukan Bappeda Kabupaten Tulungagung (2024), ada ketimpangan demand–supply, sehingga menjadi dasar pengembangan rute baru.

Evaluasi kinerja layanan angkutan sekolah menunjukkan dua tantangan utama yang harus segera diatasi. Pertama, faktor muat (load factor) yang terlalu tinggi.

Tingkat isian pada rute utama mencapai 137 persen (misalnya, 19 kursi diisi oleh 26 penumpang), yang secara jelas mengindikasikan kelebihan kapasitas, sehingga kenyamanan dan keselamatan penumpang menurun drastis.

Kedua, masalah usia dan jumlah armada. Setiap trayek saat ini hanya dilayani oleh satu unit minibus dengan usia rata-rata 10 tahun, menunjukkan perlunya peremajaan kendaraan secepatnya.

Selain masalah kapasitas dan armada, evaluasi juga menyoroti perlunya peningkatan pada aspek operasional. Keteraturan operasional bus belum optimal, jadwal keberangkatan yang tidak tetap (fixed time) menjadi alasan bagi sebagian pelajar untuk kembali memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Lebih lanjut, kelengkapan layanan juga belum terpenuhi sepenuhnya, dengan 21 persen aspek standar pelayanan minimum yang masih kurang, termasuk ketersediaan papan trayek, kotak P3K, dan identitas pengemudi yang jelas.

Membangun akses pendidikan yang inklusif melalui program angkutan sekolah gratis di Kabupaten Tulungagung.

Sebuah inisiatif pelayanan publik dari Dinas Perhubungan Kabupaten Tulungagung untuk mewujudkan akses pendidikan yang setara, aman, dan berkelanjutan bagi generasi muda. (omy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Daimler Truck Operasikan Pusat Suku Cadang Global di Jerman, Pasokan Mercedes-Benz Indonesia Dipastikan Makin Cepat

1 Juli 2026 - 23:38 WIB

Penerapan B50 masih Terkendala Teknis, Organda Lakukan ini

1 Juli 2026 - 09:42 WIB

Rampung 100%, Fly Over Teluk Lamong Siap Beroperasi untuk Perkuat Konektivitas dan Logistik Jawa Timur

29 Juni 2026 - 18:35 WIB

Mengabdi di Wilayah 3TP, Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?

29 Juni 2026 - 07:17 WIB

Revisi Aturan Komisi Ojol, Potongan Aplikator Maksimal 8 Persen Dimulai 1 Juli 2026

27 Juni 2026 - 05:22 WIB

Kemenhub Luncurkan Aplikasi SUMBA untuk Dukung Target Zero ODOL 2027

26 Juni 2026 - 08:05 WIB

Pramono Siapkan Kantong Parkir Ojol, Penataan Trotoar Jakarta Masih Hadapi Tantangan

26 Juni 2026 - 07:54 WIB

PLT BPJN Aceh Cabut Pernyataan Penutupan Jalan Enang-Enang, Minta Maaf kepada Tokoh Masyarakat Gayo

26 Juni 2026 - 05:56 WIB

Infrastruktur JIS-Ancol Rampung, 70% Warga Jakarta Tetap Pilih Mobil

24 Juni 2026 - 02:14 WIB

Selain Ada Stimulus Transportasi Libur Sekolah, Pemerintah juga Siapkan untuk Nataru

23 Juni 2026 - 12:33 WIB

Trending di ANJUNGAN