Wartatrans.com, BANDUNG — Di tengah perdebatan tentang kebebasan berekspresi dan batas-batas yang mengitarinya, pameran seni rupa “Paradoks: Suara dari Dasar” hadir di Galeri Taman Budaya Bandung pada 3–7 Juni 2026. Pameran ini mengangkat tema represi, pembungkaman, dan cara-cara baru suara menemukan ruang untuk tetap hidup.
Kurator pameran, Azra Maulina Nazira, Dinra Ardhika Syafiq, dan Sarah Risha Fadillah, memulai gagasannya dari sebuah pertentangan mendasar antara represi dan ekspresi. Keduanya dipandang sebagai dua konsep yang saling berlawanan, namun terus hadir berdampingan dalam kehidupan sosial.

Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman mencoba menerjemahkan pengalaman tentang keterbatasan ruang berekspresi. Narasi kuratorial menyebutkan bahwa pembungkaman bukanlah fenomena baru. Ia hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kontrol terhadap gagasan hingga pembatasan terhadap suara-suara yang dianggap berbeda atau mengganggu tatanan yang ada.
Dalam konteks tersebut, seni menjadi medium untuk merekam sekaligus merespons tekanan. Ketika ruang berbicara menyempit, suara tidak serta-merta hilang. Ia berubah menjadi simbol, metafora, dan berbagai bentuk ekspresi visual yang mencari jalan lain untuk hadir di hadapan publik.
Pameran ini juga menyinggung fenomena yang dikenal sebagai Streisand Effect, yakni situasi ketika upaya menekan atau menghilangkan suatu informasi justru membuatnya semakin menyebar dan mendapatkan perhatian lebih luas. Dalam pandangan kurator, suara yang dibungkam sering kali menemukan kekuatannya melalui solidaritas dan dukungan publik.
Salah satu kutipan yang menjadi pijakan gagasan pameran berasal dari Ernesto “Che” Guevara: “I don’t care if I fall as long as someone else picks up my gun and keeps on shooting.” Kutipan tersebut dimaknai sebagai simbol keberlanjutan gagasan yang tidak berhenti pada satu individu, tetapi terus hidup melalui mereka yang melanjutkannya.
Lebih dari sekadar memamerkan karya seni, Paradoks: Suara dari Dasar berupaya membuka ruang diskusi mengenai posisi kebebasan berekspresi di tengah berbagai tekanan sosial, politik, dan budaya. Pameran ini mengajukan pertanyaan yang tetap relevan: apakah masih ada ruang untuk bergerak, didengar, dan diakui, ataukah suara-suara kritis hanya akan tersisa sebagai bisikan dari lapisan paling bawah masyarakat?
Selama lima hari penyelenggaraan di Galeri Taman Budaya Bandung, pameran ini menjadi pengingat bahwa suara yang ditekan tidak selalu berakhir dalam keheningan. Dalam banyak kasus, ia justru menemukan bentuk baru untuk bertahan dan bergema lebih jauh. Sebuah paradoks yang, menurut para kurator, terus berulang dalam sejarah manusia maupun praktik kesenian.***
(Gara)





























