Menu

Mode Gelap
Peran Sastra dalam Kemajuan Bangsa (Indonesia di Ambang Kemajuan atau Krisis?) Bachtiar Firdaus: Relawan PKS Wajib Penuhi Persyaratan Organisasi, Termasuk Tidak Terlibat Perilaku LGBT Anni Kholilah Gelar Pameran Tunggal Bersama Lima Seniman Undangan di Museum Aceh Teka-teki Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jepara, Kudus, dan Pati Aksi Jujur Petugas Cleaning KAI Services Kembalikan Dompet Penumpang Tuai Pujian Netizen

SENI BUDAYA

Peran Sastra dalam Kemajuan Bangsa (Indonesia di Ambang Kemajuan atau Krisis?)

badge-check


 Peran Sastra dalam Kemajuan Bangsa  (Indonesia di Ambang Kemajuan atau Krisis?) Perbesar

Oleh: Nuyang Jaimee

Wartatrans.com, JAKARTA — Indonesia hari ini berada di sebuah ambang. Di satu sisi, pembangunan terus bergerak maju. Jalan tol menghubungkan berbagai wilayah, gedung-gedung tinggi menjulang, teknologi berkembang pesat hingga ke pelosok desa, dan kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbagai capaian ekonomi pun dipamerkan sebagai tanda kemajuan. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah Indonesia sedang menuju kemajuan, atau justru perlahan memasuki sebuah krisis yang tidak disadari?

Kemajuan sering kali diukur melalui angka-angka seperti pertumbuhan ekonomi, investasi, dan indeks pembangunan. Padahal sejarah menunjukkan bahwa sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan angka, melainkan karena kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan akal sehat. Angka hanya menggambarkan denyut kehidupan, tetapi tidak pernah mampu mengukur sejauh mana nurani masih dijaga.

Indonesia juga menghadapi paradoks di era digital. Informasi semakin mudah diakses, tetapi kebenaran justru sering kalah oleh sensasi. Media sosial menghadirkan ruang bagi semua orang untuk berbicara, namun semakin sedikit yang bersedia mendengar. Opini lebih cepat dipercaya daripada fakta, sementara kemarahan menjadi komoditas yang mudah diperdagangkan.

Dalam situasi seperti ini, sastra memiliki peran yang sangat penting. Sastra bukan sekadar rangkaian kata-kata indah, melainkan latihan menjadi manusia. Melalui puisi, novel, cerita rakyat, dan drama, manusia belajar memahami penderitaan orang lain, melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, serta merawat empati. Ketika sastra semakin tersisih, bangsa sesungguhnya kehilangan ruang untuk memelihara kemanusiaannya.

Sastra juga merupakan ingatan panjang sebuah bangsa. Ia menyimpan kisah-kisah yang sering luput dari catatan resmi negara dan menjaga suara-suara kecil agar tidak tenggelam oleh kekuasaan. Bangsa yang kehilangan sastra sejatinya sedang kehilangan cermin untuk mengenali dirinya sendiri.

Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, memang tidak dapat dihindari. Namun teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah perjalanan tetaplah manusia. Bangsa yang berhasil membangun teknologi tetapi gagal membangun karakter hanya akan menghasilkan mesin yang semakin canggih, sementara hati manusianya semakin kosong.

Gejala lain yang mengkhawatirkan adalah semakin kasarnya bahasa, menurunnya budaya membaca, dan tumbuhnya kebiasaan bereaksi tanpa berpikir mendalam. Banyak orang merasa mengetahui segalanya hanya karena membaca sepotong informasi, padahal pengetahuan sejati lahir dari kerendahan hati untuk terus belajar.

Indonesia juga menghadapi tantangan besar dalam bidang kebudayaan. Modernisasi sering disalahartikan sebagai meninggalkan tradisi, padahal kebudayaan adalah fondasi yang memberi arah bagi kemajuan. Peradaban tidak dibangun hanya dengan beton dan gedung tinggi, tetapi juga dengan ingatan kolektif, bahasa ibu, kesenian, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika keberhasilan hanya diukur dari kemampuan menguasai pasar, sementara kemampuan menjaga nurani dianggap tidak penting. Pendidikan berlomba menghasilkan tenaga kerja, tetapi belum tentu berhasil melahirkan manusia yang bijaksana. Sekolah mengajarkan cara bersaing, namun sering lupa mengajarkan cara hidup bersama.

Sesungguhnya sebuah bangsa mengalami krisis bukan ketika ekonominya melemah, melainkan ketika kejujuran menjadi barang langka, korupsi dianggap biasa, kebencian diwariskan lebih cepat daripada kasih sayang, budaya malu menghilang, dan kekuasaan lebih dihormati daripada kebenaran. Krisis paling sunyi adalah runtuhnya kepercayaan antarmanusia, sebab tanpa kepercayaan hukum kehilangan wibawa, demokrasi kehilangan makna, dan kebangsaan hanya menjadi slogan.

Meski demikian, harapan Indonesia belum padam. Harapan itu hidup di ruang-ruang sederhana: pada guru yang tetap mengajar dengan penuh pengabdian, perpustakaan desa yang membuka pintu bagi anak-anak, komunitas sastra yang merawat bahasa ibu, seniman yang terus berkarya, petani yang menjaga tanahnya, dan para pemuda yang memilih membangun daripada mencaci. Merekalah akar yang diam-diam menjaga Indonesia tetap tegak menghadapi perubahan zaman.

Keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan modal besar yang harus dirawat, bukan sekadar dijadikan slogan. Dari ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, dan beragam tradisi lahirlah kekayaan yang menjadi sumber kebijaksanaan bersama. Indonesia dibangun bukan agar semua orang menjadi sama, melainkan agar perbedaan dapat hidup berdampingan dalam saling menghormati.

Pertanyaan “Indonesia di ambang kemajuan atau krisis?” pada akhirnya bukan hanya ditujukan kepada negara, tetapi kepada setiap warganya. Sebab negara bukan sekadar wilayah atau gedung pemerintahan, melainkan kumpulan nilai yang hidup dalam perilaku rakyatnya setiap hari.

Selama masyarakat masih mampu menjaga kejujuran, merawat kebudayaan, memelihara nalar di tengah banjir informasi, dan mempertahankan kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi, maka ambang yang sedang dipijak adalah gerbang menuju kemajuan. Namun jika kebencian dibiarkan mengalahkan persaudaraan, keserakahan menggantikan keadilan, serta kebudayaan dan akal sehat terus terkikis, maka ambang itu akan berubah menjadi tepi jurang.

Pada akhirnya, kemajuan sejati bukanlah perlombaan membangun gedung tertinggi, melainkan kemampuan menjaga martabat manusia. Indonesia mungkin memang sedang berdiri di sebuah ambang. Namun ambang itu bukan takdir, melainkan pilihan. Sejarah kelak tidak hanya mencatat seberapa tinggi negeri ini dibangun, tetapi juga seberapa dalam bangsa ini mampu memelihara kemanusiaannya.***

Nuyang Jaimee mengawali perjalanan berkesenian melalui dunia teater pada awal tahun 2000-an, kemudian mengembangkan kiprahnya sebagai penulis cerpen, puisi, esai, naskah drama, dan skenario. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media massa serta antologi bersama penulis dari dalam dan luar negeri.

Ia aktif di sejumlah komunitas sastra dan seni, di antaranya Wanita Penulis Indonesia (WPI), Man Sastrawan Indonesia Jakarta (MSIJ), serta menjadi pendiri Lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI) dan Komunitas Keluarga Besar Penyair Seksi (KBPS). Selain berkarya, ia juga berperan sebagai guru seni, performer, narasumber, moderator, dan MC. Prestasi yang diraihnya antara lain Juara I Baca Puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dan Juara II Lomba Cipta Puisi Kolaborasi Seni Rupa. Pada 2023, ia menerbitkan buku puisi tunggal Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Anni Kholilah Gelar Pameran Tunggal Bersama Lima Seniman Undangan di Museum Aceh

13 Juli 2026 - 18:16 WIB

Sanggar Oloh Guwel Iringi Parade Puisi 14 Negara pada PPN XIV Aceh di Aceh Tengah

13 Juli 2026 - 11:11 WIB

Tari Bines Gayo Lues Memukau Penonton pada PPN XIV Aceh di Temas River Park

12 Juli 2026 - 22:50 WIB

Seni Gayo Kepung Jakarta, Pegayon Pentaskan Warisan Leluhur Tanoh Gayo

12 Juli 2026 - 20:02 WIB

Gedung GOS Resmi Berubah Fungsi Menjadi Taman Budaya Negeri Gayo

11 Juli 2026 - 12:44 WIB

Bima Alfath Perkenalkan Single “Cinta Tak Bernyawa”, Siap Tampil Perdana di Panggung NEW CELEBRITY

11 Juli 2026 - 12:18 WIB

HSBI Peringati Hari Sastra dengan Pentas Seni di Padepokan Mahagenta

11 Juli 2026 - 01:06 WIB

Nina Nugroho Bergabung dengan IKAC, Wujud Pengabdian untuk Kampung Halaman

10 Juli 2026 - 20:41 WIB

Ahli Waris Kapitan Pattimura Dorong Rumah Pahlawan Nasional Dijadikan Museum

10 Juli 2026 - 18:06 WIB

SCTV Hadirkan “Wajah Cinta Yang Lain”, Dinda Kirana Jalani Transformasi Demi Membalas Pengkhianatan

10 Juli 2026 - 17:12 WIB

Trending di SENI BUDAYA