Wartatrans.com, JAKARTA — Sanggar Pegayon kembali menghadirkan pergelaran budaya bertajuk Pegayon Art Jak 2026 dengan mengusung tema “Uetmi Ko Gayo”. Pertunjukan yang menjadi perayaan seni dan budaya Gayo ini akan digelar pada Minggu, 12 Juli 2026, pukul 15.00–18.00 WIB, di Teater Tuti Indra Malaon, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya No. 73, Menteng, Jakarta Pusat.
Mengangkat semangat “Seni Gayo Kepung Jakarta”, pementasan ini menjadi ikhtiar Sanggar Pegayon dalam menghidupkan kembali warisan seni tradisi Gayo di tengah masyarakat ibu kota. Sebagaimana tertulis dalam tema acara, “Uetmi Ko Gayo”, pertunjukan ini merupakan sebuah perayaan seni dan budaya Gayo yang penuh makna, keindahan, dan kebanggaan, sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan warisan leluhur.

Rangkaian acara akan diawali dengan prosesi Tepung Tawar yang dipimpin oleh dua orang mamak sebagai simbol doa, restu, dan harapan agar seluruh kegiatan berjalan lancar. Selanjutnya, seorang penari akan membawakan Munalo sebagai tarian pembuka.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia, perwakilan Dewan, dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Pementasan utama diawali dengan Tari Guel, salah satu mahakarya seni tradisi masyarakat Gayo yang sarat nilai sejarah dan filosofi. Tarian ini akan diiringi bunyi gong, gegedem, suling, sining, serta rangkaian gerak khas seperti Tabi Mulo Langit Si Kupejujung, Maaf Mulo Bumi Si Kupejejak, Rasinge, Munatap, Dep, hingga Cincang Nangka, yang menggambarkan penghormatan kepada alam, leluhur, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Gayo.
Usai Tari Guel, narator akan menjelaskan makna Tari Guel dan Tari Oteh Roda sebelum lima penari beberu menampilkan tarian yang merepresentasikan kelembutan, kekompakan, dan keindahan perempuan Gayo.
Memasuki pertunjukan berikutnya, narator akan memperkenalkan Didong, kesenian khas Gayo yang memadukan syair, vokal, ritme tepok, dan pesan-pesan kehidupan.
Didong diawali dengan Tingkah Pumu, dilanjutkan seluruh pendidong memasuki arena dan duduk rapi pada posisi masing-masing untuk membawakan Runcang 6, kemudian Persalaman oleh Iwan dan Azzam beserta reff, Lagu Pegayon, Tepok Kreasi Pembuka, Lagu Mungaro, Lagu Idem-Idem, Tepok Naruto, Pulut Lengkawi, hingga ditutup dengan Tepok Guel.
Suasana kemudian berlanjut pada sesi Niro Izin yang dibawakan Iwan dan Azzam bersama reff. Pada bagian ini, para pendidong yang bertugas memainkan alat musik bergerak menuju perangkat musik, sementara peserta lainnya mengajak penonton ikut serta dalam Turun Kubelang, sebuah tarian kebersamaan yang melibatkan seluruh hadirin.
Rangkaian pertunjukan akan ditutup dengan Tari Turun Kubelang dan sesi foto bersama seluruh seniman, tamu undangan, serta penonton sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan.
Melalui Pegayon Art Jak 2026, Sanggar Pegayon berharap seni tradisi Gayo semakin dikenal oleh masyarakat luas serta terus hidup di tengah perkembangan zaman. Pergelaran ini menjadi bukti bahwa warisan budaya Tanoh Gayo tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu tampil megah di panggung seni nasional melalui kreativitas generasi muda yang terus produktif melestarikan budaya leluhur.*** (Jasa/Agam)






























