Menu

Mode Gelap
KKP dan BP Batam Perkuat Pengawasan Mutu Ekspor Perikanan, Sertifikasi Ditargetkan Lebih Cepat KAI Kembangkan Stasiun Bogor, Peron SF12 Beroperasi Penuh dan Eskalator ke Bogor Paledang Disiapkan Perkuat Kolaborasi Penanganan Masalah Hukum, Pelindo Regional 2 Banten dan Kejaksaan Negeri Cilegon Perpanjang Nota Kesepahaman Hadapi Dinamika Global, IPCC Bukukan Pertumbuhan Kinerja Keuangan Berkelanjutan pada Semester I 2026 Wakil Bupati Aceh Timur Beri Waktu 2 X 24 Jam Kepada “Dun Belanda” Untuk Klarifikasi Terkait Video Viral FPRM Aceh Sesalkan Temuan BPK: Barang Bantuan “Busuk” di Gudang Dinsos Kota Langsa Akibat Tidak Terawat

Uncategorized

Sastrawan Soroti Arah Masa Depan Sastra Indonesia di Tengah Dominasi Media Sosial

badge-check


 Sastrawan Soroti Arah Masa Depan Sastra Indonesia di Tengah Dominasi Media Sosial Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Masa depan sastra Indonesia menjadi topik utama dalam sebuah diskusi santai yang berlangsung pada Jumat (05/06/2026). Diskusi tersebut menghadirkan Novelis Putra Gara, Yon Bayu, penyair Remmy Novaris, Nanang R. Supriatin, dan Joko Arief Wicaksono.

Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan penuh refleksi tersebut, para peserta menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia kesusastraan Indonesia sejak meredupnya media cetak dan berkembang pesatnya platform media sosial sebagai ruang baru bagi para penulis.

Novelis Putra Gara menilai bahwa hilangnya banyak media cetak telah mengurangi ruang kurasi yang selama puluhan tahun menjadi pintu masuk lahirnya karya-karya sastra berkualitas.

“Media cetak dahulu tidak hanya menjadi wadah publikasi, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran bagi penulis untuk memahami standar kepenulisan yang baik,” ungkap Gara, yang konsen nulis novel-novel sejarah.

Sementara itu, Yon Bayu melihat kemunculan sastra media sosial sebagai fenomena yang tidak bisa dihindari. Ia menilai media sosial telah membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk menulis dan mempublikasikan karya secara instan.

“Namun, kebebasan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa menurunnya proses seleksi dan kritik sastra yang selama ini menjadi bagian penting dalam perkembangan seorang penulis. Karena itulah ini jadi PR kita bersama,” ungkap Yon, yang sedang menyiapkan launching kumpulan cerpennya terbarunya.

Penyair Remmy Novaris mengungkapkan bahwa sastra Indonesia saat ini sedang berada pada masa transisi. Menurutnya, karya sastra yang viral di media sosial belum tentu memiliki kedalaman estetik dan nilai artistik yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

“Karena itu, diperlukan ruang-ruang diskusi dan kritik yang sehat agar perkembangan sastra tidak hanya mengikuti tren sesaat,” tegas Remmy.

Pandangan senada disampaikan Nanang R. Supriatin. Ia menekankan pentingnya membangun kembali ekosistem sastra yang melibatkan penulis, editor, kritikus, media, komunitas, dan lembaga pendidikan.

“Tanpa ekosistem yang kuat, sastra Indonesia dikhawatirkan kehilangan arah dan hanya menjadi bagian dari arus konten digital yang bergerak cepat namun mudah dilupakan,” timpal Nanang.

Adapun Joko Arief Wicaksono menyoroti perlunya adaptasi para sastrawan terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, media sosial tidak harus dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pembaca.

“Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitas karya di tengah budaya serba cepat yang berkembang di ruang digital,” kata Arief.

Dalam diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa sastra Indonesia membutuhkan arah baru yang mampu menjembatani tradisi kesusastraan yang kuat dengan perkembangan teknologi informasi. Kehadiran media digital dinilai membuka peluang besar bagi regenerasi penulis, namun tetap diperlukan mekanisme kurasi, kritik, dan apresiasi agar kualitas sastra Indonesia terus terjaga.

Diskusi ditutup dengan harapan agar komunitas sastra, media, perguruan tinggi, dan pemerintah dapat berkolaborasi menciptakan ruang-ruang kreatif yang mendorong lahirnya karya-karya bermutu serta memperkuat posisi sastra Indonesia di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.*** (Septi)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kirab Budaya Saparan: Kecamatan Borobudur, Wadah Kebudayaan yang Merajut Keutuhan dalam Kebersamaan

27 Juli 2026 - 11:09 WIB

Betawi Academia Diharapkan Dukung Penerbitan Edisi Kedua Kembang Goyang

27 Juli 2026 - 05:51 WIB

Pemegang Rekor MURI Muda Balia Tampil di Sophie’s Sunset Library 2.0

27 Juli 2026 - 05:42 WIB

Temu Seniman: Sebuah Cerita Berontak Sejenak

27 Juli 2026 - 05:37 WIB

Catatan LK Ara, Saat Menerima Anugrah Adiluhung HPI 2026

26 Juli 2026 - 21:18 WIB

Penyair Gayo LK Ara Raih Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026

26 Juli 2026 - 19:46 WIB

Harry De Fretes Hidupkan Semangat Persahabatan dan Musik Betawi Lewat Single “I Love You, Bestie”

26 Juli 2026 - 13:19 WIB

Unjuk Rasa, Unjuk Karya: Seniman Perjuangkan TIM sebagai Ruang Sejarah dan Peradaban

26 Juli 2026 - 10:09 WIB

Semarak Show Art Melukis di Atas Kaos Meriahkan Peunayong, Sempat Padatkan Jalan Khairil Anwar

25 Juli 2026 - 22:35 WIB

“Bang Ali, Mungkin Kini Saatnya Aku Memenuhi Permintaanmu”

25 Juli 2026 - 22:10 WIB

Trending di SENI BUDAYA