Wartatrans.com, JAKARTA – Masa depan sastra Indonesia menjadi topik utama dalam sebuah diskusi santai yang berlangsung pada Jumat (05/06/2026). Diskusi tersebut menghadirkan Novelis Putra Gara, Yon Bayu, penyair Remmy Novaris, Nanang R. Supriatin, dan Joko Arief Wicaksono.
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan penuh refleksi tersebut, para peserta menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia kesusastraan Indonesia sejak meredupnya media cetak dan berkembang pesatnya platform media sosial sebagai ruang baru bagi para penulis.

Novelis Putra Gara menilai bahwa hilangnya banyak media cetak telah mengurangi ruang kurasi yang selama puluhan tahun menjadi pintu masuk lahirnya karya-karya sastra berkualitas.
“Media cetak dahulu tidak hanya menjadi wadah publikasi, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran bagi penulis untuk memahami standar kepenulisan yang baik,” ungkap Gara, yang konsen nulis novel-novel sejarah.
Sementara itu, Yon Bayu melihat kemunculan sastra media sosial sebagai fenomena yang tidak bisa dihindari. Ia menilai media sosial telah membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk menulis dan mempublikasikan karya secara instan.
“Namun, kebebasan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa menurunnya proses seleksi dan kritik sastra yang selama ini menjadi bagian penting dalam perkembangan seorang penulis. Karena itulah ini jadi PR kita bersama,” ungkap Yon, yang sedang menyiapkan launching kumpulan cerpennya terbarunya.
Penyair Remmy Novaris mengungkapkan bahwa sastra Indonesia saat ini sedang berada pada masa transisi. Menurutnya, karya sastra yang viral di media sosial belum tentu memiliki kedalaman estetik dan nilai artistik yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Karena itu, diperlukan ruang-ruang diskusi dan kritik yang sehat agar perkembangan sastra tidak hanya mengikuti tren sesaat,” tegas Remmy.
Pandangan senada disampaikan Nanang R. Supriatin. Ia menekankan pentingnya membangun kembali ekosistem sastra yang melibatkan penulis, editor, kritikus, media, komunitas, dan lembaga pendidikan.
“Tanpa ekosistem yang kuat, sastra Indonesia dikhawatirkan kehilangan arah dan hanya menjadi bagian dari arus konten digital yang bergerak cepat namun mudah dilupakan,” timpal Nanang.
Adapun Joko Arief Wicaksono menyoroti perlunya adaptasi para sastrawan terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, media sosial tidak harus dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pembaca.
“Tantangannya adalah bagaimana menjaga kualitas karya di tengah budaya serba cepat yang berkembang di ruang digital,” kata Arief.
Dalam diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa sastra Indonesia membutuhkan arah baru yang mampu menjembatani tradisi kesusastraan yang kuat dengan perkembangan teknologi informasi. Kehadiran media digital dinilai membuka peluang besar bagi regenerasi penulis, namun tetap diperlukan mekanisme kurasi, kritik, dan apresiasi agar kualitas sastra Indonesia terus terjaga.
Diskusi ditutup dengan harapan agar komunitas sastra, media, perguruan tinggi, dan pemerintah dapat berkolaborasi menciptakan ruang-ruang kreatif yang mendorong lahirnya karya-karya bermutu serta memperkuat posisi sastra Indonesia di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.*** (Septi)




























