Wartatrans.com, JAKARTA – Indonesia menjadi salah satu sasaran utama ekspansi industri otomotif China setelah Negeri Tirai Bambu mencetak rekor ekspor kendaraan sebanyak 1,06 juta unit pada Juni 2026. Lonjakan 71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu diperkirakan akan memperketat persaingan di pasar kendaraan listrik nasional yang nilai transaksinya mendekati Rp28 triliun pada semester I/2026.
Data Administrasi Umum Bea Cukai China yang dirilis pada Selasa (14/7/2026) menunjukkan, peningkatan ekspor dipicu melemahnya permintaan domestik setelah berkurangnya subsidi kendaraan listrik. Kondisi tersebut mendorong produsen seperti BYD, Geely, Chery, SAIC, dan Great Wall Motor memperluas ekspansi ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Wakil Direktur Biro Statistik Nasional China (NBS), Wang Jun, mengatakan pertumbuhan ekspor berjalan seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik global. Menurut dia, transisi menuju ekonomi rendah karbon menjadi pendorong utama perkembangan industri kendaraan listrik China yang sejak 2023 berhasil melampaui Jepang sebagai eksportir mobil terbesar di dunia.
Kini dampaknya mulai terasa di Indonesia. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) mencapai 69.739 unit pada semester I/2026, atau meningkat 80,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juni 2026, Jaecoo J5 menjadi mobil listrik terlaris bulanan, dengan penjualan 3.041 unit, sedangkan BYD masih memimpin pasar BEV nasional dengan pangsa sekitar 30,73 persen.
Berdasarkan volume penjualan tersebut dan kisaran harga kendaraan listrik yang dipasarkan di Indonesia, maka nilai transaksi pasar BEV nasional pada semester I/2026, diperkirakan mendekati Rp28 triliun. Besarnya nilai ekonomi itu, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar kendaraan listrik paling prospektif di Asia Tenggara.
Agresivitas produsen China juga terlihat dari investasi di Indonesia. Pemerintah telah mengumumkan rencana investasi BYD sekitar US$1,3 miliar untuk membangun pabrik kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun. Sejumlah produsen lain juga memperluas jaringan dealer dan layanan purnajual untuk memperkuat pangsa pasar.
Besarnya potensi pasar nasional turut didukung ukuran pasar otomotif domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan DKI Jakarta sebagai salah satu pasar kendaraan bermotor terbesar di Indonesia, sementara PT PLN (Persero) terus memperluas jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) guna mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik.
Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan pada Sabtu (18/7/2026), dua hingga tiga tahun ke depan akan menjadi periode krusial bagi pabrikan Jepang, dalam mempertahankan dominasinya di Indonesia. Menurut dia, produsen China kini unggul dalam inovasi teknologi, efisiensi produksi, dan investasi sehingga persaingan akan semakin ketat.
Di sisi lain, tarif tambahan Uni Eropa terhadap kendaraan listrik asal China membuat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi tujuan strategis ekspansi baru produsen China. Karena itu, pemerintah perlu memastikan investasi tersebut menghasilkan transfer teknologi, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penguatan industri komponen, serta pengembangan ekosistem baterai agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga basis produksi kendaraan listrik yang berdaya saing global.***(Artha Tidar)





























