Wartatrans.com, JAKARTA – Gempa bumi kuat berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah selatan Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026) pagi memicu tsunami dengan ketinggian rendah di sejumlah daerah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya sembilan wilayah terdampak gelombang tsunami minor akibat gempa tersebut.

Gempa terjadi pada pukul 06.37.42 WIB dengan pusat berada di laut pada koordinat 5,80 derajat Lintang Utara dan 125,14 derajat Bujur Timur. Lokasinya sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya telah menerbitkan empat kali peringatan dini tsunami menyusul terjadinya gempa besar tersebut.
Berdasarkan pemantauan BMKG, gelombang tsunami terdeteksi di sejumlah titik dengan ketinggian bervariasi. Gelombang pertama tercatat di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, setinggi 30 sentimeter pada pukul 06.58 WIB. Selanjutnya tsunami juga terukur di Loloda, Maluku Utara, setinggi 9 sentimeter dan Ulu Siau, Sulawesi Utara, setinggi 18 sentimeter.
Di wilayah Melonguane, Kepulauan Talaud, tinggi gelombang mencapai 32 sentimeter. Sementara di Paleleh, Sulawesi Tengah, tercatat ketinggian 45 sentimeter. Gelombang juga terdeteksi di Tanjung Sidupa setinggi 32 sentimeter, Bitung 29 sentimeter, serta Ternate 14 sentimeter. Ketinggian terbesar tercatat di Talengan, Kepulauan Sangihe, yang mencapai 75 sentimeter pada pukul 08.20 WIB.
Selain tsunami, BMKG juga mencatat rangkaian gempa susulan setelah gempa utama. Guncangan pertama berkekuatan magnitudo 5,9 terjadi pada pukul 07.11 WIB di wilayah 241 kilometer barat laut Pulau Karatung. Tujuh menit kemudian, gempa susulan magnitudo 5,7 kembali terjadi di lokasi 211 kilometer barat laut pulau tersebut.
Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa magnitudo 6,0 pada pukul 07.55 WIB di sekitar 201 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe. Selanjutnya, BMKG kembali merekam gempa susulan magnitudo 5,2 pada pukul 08.10 WIB di wilayah 172 kilometer barat laut Tahuna.
BMKG mengakhiri status peringatan dini tsunami pada pukul 10.15 WIB setelah kondisi dinilai aman. Menurut Faisal, penghentian peringatan dini dilakukan agar proses penanganan dan evakuasi di daerah terdampak dapat berjalan lebih optimal.
“Pengakhiran peringatan dini yang telah kami tetapkan pada pukul 10.15 WIB perlu disampaikan agar tim SAR, BPBD, BNPB, TNI, Polri, dan seluruh unsur terkait dapat melaksanakan upaya penyelamatan yang dibutuhkan di lokasi terdampak,” ujar Faisal dalam konferensi pers virtual.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara melaporkan kerusakan bangunan akibat dampak gempa dan tsunami. Hingga Senin sore, tercatat 53 bangunan mengalami kerusakan mulai dari ringan hingga berat.
Kepala BPBD Sulawesi Utara Adolf Tumengkel mengatakan wilayah yang paling terdampak adalah Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan total 39 bangunan rusak. Kerusakan meliputi 34 rumah warga, dua gereja, satu masjid, satu sekolah, dan satu rumah dinas.
Selain itu, Kabupaten Kepulauan Talaud mencatat 13 bangunan terdampak, terdiri atas 11 rumah warga, satu rumah sakit, dan satu gudang pelabuhan perintis. Kerusakan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Minahasa Utara, tepatnya pada satu unit gedung sekolah di Desa Maliambao, Kecamatan Likupang Barat.
Secara keseluruhan, BPBD mencatat kerusakan pada 45 rumah warga, dua gereja, satu masjid, dua sekolah, satu rumah dinas, satu rumah sakit, dan satu bangunan pelabuhan perintis.
Adolf menambahkan aktivitas gempa susulan masih terus berlangsung setelah gempa utama mengguncang Filipina. Hingga pukul 16.45 Wita, tercatat 60 kali gempa susulan, dengan satu di antaranya sempat dirasakan masyarakat di wilayah terdampak.(fahmi)































