Menu

Mode Gelap
KA Batara Kresna Jadi Pilihan Wisata Akhir Pekan dari Solo ke Wonogiri, Tarif Rp4.000 KAI Wisata Gandeng Jakarta Infrastruktur Propertindo, Hadirkan Integrasi Transportasi Wisata dan Media Iklan Digital Meningkat, Pengguna Commuter Line Jabodetabek Tembus 86,8 Juta pada Triwulan I 2026 Dica Melo Sukses Sebagai Brand Ambassador, Kembali Dikontrak Meinl. Jumat Berkah di Tanjung Priok: Wujud Kepedulian Polri Pererat Silaturahmi dengan Masyarakat KA Blora Jaya Tumbuh 72,76% pada Triwulan I 2026, Perjalanan yang Menghubungkan Harapan Banyak Masyarakat

EKOBIS

Peringatan World Fisheries Day, Melestarikan Huhate Dorong Indonesia ke Pasar Tuna Premium

badge-check


 Nikmatnya olahan ikan tuna Perbesar

Nikmatnya olahan ikan tuna

Wartatrans.com, JAKARTA – Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisinya sebagai pemasok tuna berkelanjutan ke pasar premium dunia.

Mengacu pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ekspor tuna Indonesia mencapai US$680 juta pada 2022.

“Tren permintaan terhadap tuna yang ditangkap secara bertanggungjawab dan berkelanjutan tumbuh di atas 15% per tahun di pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa,” jelas Thilma Komaling, Program Lead Indonesia Tuna Consortium di sela Peringatan World Fisheries Day, di Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Khusus pasar Eropa dan Inggris, permintaan untuk tuna yang ditangkap dengan metode berkelanjutan huhate (pole and line, metode penangkapan tuna tradisional Indonesia) mencapai lebih 26.000 metrik ton (MT).

Permintaan ini akan terus bertambah dan seru juga berpeluang besar dalam menguatkan perikanan huhate (pole and line) Indonesia menjadi salah satu kunci bagi industri untuk mempertahankan daya saing tersebut.

Pada peringatan World Fisheries Day hari ini, Tuna Consortium (TC) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) menegaskan kembali bahwa huhate—metode penangkapan tuna tradisional Indonesia menggunakan joran dan tali pancing—memiliki nilai strategis bukan hanya bagi keberlanjutan ekosistem laut.

“Tetapi juga bagi perekonomian pesisir dan memberikan keunggulan kompetitif bagi industri tuna nasional,” katanya.

Sebagai negara penghasil tuna terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menerapkan praktik penangkapan yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian sumber daya ikan.

Huhate merupakan tradisi perikanan Nusantara yang telah dijalankan selama puluhan tahun. Teknik ini dikenal efisien, selektif, minim bycatch (tangkapan sampingan), dan menghasilkan kualitas tuna yang tinggi.

Dengan begitu, berkontribusi langsung pada stabilitas populasi tuna. Keunggulan metode memancing satu per satu (one by one) ini juga memperkuat nilai produk tuna Indonesia, membuka akses lebih luas ke pasar global, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok tuna berkelanjutan.

“Huhate bukan hanya warisan budaya, tetapi juga aset ekonomi yang membuka peluang besar bagi masyarakat pesisir dan industri tuna nasional melalui pemenuhan standar keberlanjutan global yang kini menjadi syarat utama akses pasar,” ujar Thilma.

Dia menekankan bahwa metode ini mendorong terciptanya lapangan kerja yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan nelayan, serta memperkuat rantai pasok yang kredibel—faktor penting untuk memenuhi standar internasional yang semakin menuntut praktik perikanan berkelanjutan.

Keberlanjutan tuna, lanjutnya, juga berarti menjaga laut tetap menjadi dapur protein bagi generasi sekarang dan mendatang.

Ketua AP2HI, Abrizal Andrew Ang menambahkan, sebagian besar operasi pole & line dijalankan unit usaha berskala kecil dan menengah yang mengandalkan tenaga kerja lokal.

“Mulai dari nelayan, pengolah, hingga rantai distribusi,” ucapnya.

Oleh karena itu, setiap praktik penangkapan dengan huhate memberikan multiplier effect signifikan bagi ekonomi komunitas pesisir, mulai dari sektor penangkapan, pengolahan, hingga distribusi.

Selain berdampak pada lapangan kerja, produk tuna yang ditangkap dengan metode ini memiliki harga jual 15-30% lebih tinggi di pasar ekspor karena memenuhi standar keberlanjutan.

“Ketika kita mendukung huhate, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan stok tuna, tetapi juga memastikan ribuan keluarga nelayan memperoleh pendapatan stabil dan memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraannya,” ujarnya.

TC dan AP2HI menilai, keberlanjutan ekonomi jangka panjang hanya dapat dicapai melalui praktik penangkapan yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan.

Dengan mempromosikan pole & line yang berbasis sains, ramah lingkungan, dan terbukti selektif, Indonesia dapat terus memperkuat reputasinya sebagai pemasok tuna berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya tawar produk di pasar domestik dan global.

Pendekatan ini berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan memperkuat posisi Indonesia di industri perikanan bernilai tinggi.

Melalui kegiatan ini, media diharapkan menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi akurat mengenai manfaat ekonomi dari praktik perikanan tradisional yang bertanggung jawab.

Narasi mengenai pole & line sebagai tradisi yang memberikan dampak positif bagi ekonomi pesisir dan terbukti ramah lingkungan diharapkan dapat mendorong dukungan yang lebih luas dari publik dan para pemangku kepentingan. (omy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AISMOLI Sebut Sodium Ion Pas untuk Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia

17 April 2026 - 17:57 WIB

ASDP Hadirkan Fasilitas Belajar Modern Inklusif, Dukung SDM Unggul

17 April 2026 - 16:49 WIB

CANSO Apresiasi Penerapan ATMAS AirNav Indonesia

17 April 2026 - 16:34 WIB

FIFASTRA Raih Silver WOW Brand 2026 Kategori Motorcycle Leasing

17 April 2026 - 14:49 WIB

Mengintip 3 Pelabuhan Pelindo Multi Terminal dengan Penumpang Terpadat di Angleb 2026 

17 April 2026 - 14:38 WIB

Maret 2026, IPC TPK Jambi Catat Pertumbuhan Arus Peti Kemas 22,5 Persen

17 April 2026 - 14:10 WIB

Gangguan Pasokan Bahan Baku Non Energi Mulai Tekan Industri, Ini Rekomendasi SCI

17 April 2026 - 10:04 WIB

Pameran Industri Tekstil dan Garmen, Primatek Group Tampilkan Teknologi Inovasi Terpadu

16 April 2026 - 16:48 WIB

Wow, Garuda Indonesia Dinobatkan jadi Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia periode Maret 2026

16 April 2026 - 12:05 WIB

PTP Nonpetikemas Teluk Bayur Layani Muatan 18.000 Ton Produk Turunan Kelapa Sawit Tujuan Pakistan

16 April 2026 - 09:56 WIB

Trending di ANJUNGAN