Menu

Mode Gelap
KAI Terapkan B50, Tekan Emisi Karbon Operasional Kereta Api Gelar RUA 2026, Iperindo Bahas Order Pembangunan Kapal Baru Dalam Negeri masih Sepi Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur

PERISTIWA

Sastrawan Halimah Munawir: Sastra Harus Hadir di Sekolah

badge-check


 Sastrawan Halimah Munawir: Sastra Harus Hadir di Sekolah Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sastra tak boleh kehilangan ruangnya di sekolah, meski generasi muda kini hidup di tengah gempuran teknologi digital. Hal itu ditegaskan sastrawan Halimah Munawir dalam kegiatan peluncuran buku Lika Liku Hariku di Sekolah, antologi puisi karya siswa SMA Negeri 31 Jakarta, yang dirangkai dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Menurut Halimah, sastra justru semakin relevan di era teknologi.

“Sastra mengajarkan kepekaan, kesabaran, dan kemampuan merenung—hal-hal yang kian jarang disentuh oleh dunia serba cepat hari ini,” ujar Halimah saat memberikan sambutan.

Ia menilai, kemajuan teknologi tidak seharusnya mematikan minat menulis, melainkan menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk menjaga keseimbangan antara kecakapan digital dan kecerdasan batin. Halimah mengutip pandangan Jack Ma yang menyebut masa depan akan penuh tantangan sebelum akhirnya menghadirkan keindahan.

“Kerja sastra memang tidak instan. Tapi ia menyiapkan manusia yang lebih tahan menghadapi zaman,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa didorong untuk menulis puisi berdasarkan pengalaman mereka di sekolah. Dari ratusan siswa, hanya 70 karya yang akhirnya dibukukan. Bagi Halimah, angka itu bukan kegagalan.

“Sastra tidak pernah lahir dari paksaan. Ia tumbuh dari kesadaran dan keberanian,” ujarnya lagi.

Ia juga menekankan pentingnya membiasakan menulis sejak usia sekolah. Menurut Halimah, kebiasaan menulis akan membentuk cara berpikir dan kepekaan seseorang, apa pun profesi yang kelak dipilih.

“Menulis puisi tidak menghalangi seseorang menjadi dokter, insinyur, atau pengusaha. Justru sastra membuat mereka lebih manusiawi,” kata Halimah.

Halimah berharap sekolah-sekolah memberi ruang lebih luas bagi kegiatan literasi sastra, tidak hanya sebagai pelengkap kurikulum, tetapi sebagai bagian dari pembentukan karakter.

“Jika sastra mati di sekolah, kita akan kehilangan generasi yang mampu memahami dirinya sendiri dan orang lain,” ujarnya.

Peluncuran buku Lika Liku Hariku di Sekolah menjadi penanda bahwa sastra masih menemukan jalannya di ruang pendidikan—meski perlahan, namun terus bergerak, menjaga nyala kata di tengah perubahan zaman.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

“Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

26 Agustus 2026 - 17:14 WIB

7Dunia Seandainya Engkau Tahu Single Raih Ratusan Ribu Views YouTube, Kini Tembus Puluhan Ribu Stream Spotify

26 Agustus 2026 - 13:48 WIB

KKP Intensifkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Donasi Terkumpul Rp920 Juta

26 Agustus 2026 - 13:02 WIB

FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting

25 Agustus 2026 - 16:00 WIB

KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor

25 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Pelindo Regional 2 dan BNN Jakarta Utara Perkuat Edukasi Bahaya Narkoba bagi Generasi Muda

24 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Pelindo Semai Harapan di Langowan melalui Relawan Bakti BUMN Batch IX

24 Agustus 2026 - 16:36 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Trending di NASIONAL