Menu

Mode Gelap
Pergerakan Penumpang Tembus 78 Juta, KAI Kembangkan Peron Jalur 6, 7, dan 8 Stasiun Bogor untuk KRL 12 Kereta Seni Gayo Kepung Jakarta, Pegayon Pentaskan Warisan Leluhur Tanoh Gayo Titiek Soeharto Apresiasi BUBK Kebumen, Produksi Udang Siklus ke-8 Diproyeksi Capai 254,5 Ton Pengguna Suite Class Compartment KAI Melonjak 64,76 Persen pada Semester I 2026 Solusi Semu Modernisasi Pemerintah 42 Juta Warga Jabodetabek Dikepung Rel Tua 101 Tahun Pelabuhan Sape Andal Perkuat Akses Wisata dan Ekonomi Kawasan Timur Indonesia

PERISTIWA

Sastrawan Halimah Munawir: Sastra Harus Hadir di Sekolah

badge-check


 Sastrawan Halimah Munawir: Sastra Harus Hadir di Sekolah Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sastra tak boleh kehilangan ruangnya di sekolah, meski generasi muda kini hidup di tengah gempuran teknologi digital. Hal itu ditegaskan sastrawan Halimah Munawir dalam kegiatan peluncuran buku Lika Liku Hariku di Sekolah, antologi puisi karya siswa SMA Negeri 31 Jakarta, yang dirangkai dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Menurut Halimah, sastra justru semakin relevan di era teknologi.

“Sastra mengajarkan kepekaan, kesabaran, dan kemampuan merenung—hal-hal yang kian jarang disentuh oleh dunia serba cepat hari ini,” ujar Halimah saat memberikan sambutan.

Ia menilai, kemajuan teknologi tidak seharusnya mematikan minat menulis, melainkan menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk menjaga keseimbangan antara kecakapan digital dan kecerdasan batin. Halimah mengutip pandangan Jack Ma yang menyebut masa depan akan penuh tantangan sebelum akhirnya menghadirkan keindahan.

“Kerja sastra memang tidak instan. Tapi ia menyiapkan manusia yang lebih tahan menghadapi zaman,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa didorong untuk menulis puisi berdasarkan pengalaman mereka di sekolah. Dari ratusan siswa, hanya 70 karya yang akhirnya dibukukan. Bagi Halimah, angka itu bukan kegagalan.

“Sastra tidak pernah lahir dari paksaan. Ia tumbuh dari kesadaran dan keberanian,” ujarnya lagi.

Ia juga menekankan pentingnya membiasakan menulis sejak usia sekolah. Menurut Halimah, kebiasaan menulis akan membentuk cara berpikir dan kepekaan seseorang, apa pun profesi yang kelak dipilih.

“Menulis puisi tidak menghalangi seseorang menjadi dokter, insinyur, atau pengusaha. Justru sastra membuat mereka lebih manusiawi,” kata Halimah.

Halimah berharap sekolah-sekolah memberi ruang lebih luas bagi kegiatan literasi sastra, tidak hanya sebagai pelengkap kurikulum, tetapi sebagai bagian dari pembentukan karakter.

“Jika sastra mati di sekolah, kita akan kehilangan generasi yang mampu memahami dirinya sendiri dan orang lain,” ujarnya.

Peluncuran buku Lika Liku Hariku di Sekolah menjadi penanda bahwa sastra masih menemukan jalannya di ruang pendidikan—meski perlahan, namun terus bergerak, menjaga nyala kata di tengah perubahan zaman.*** (PG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Seni Gayo Kepung Jakarta, Pegayon Pentaskan Warisan Leluhur Tanoh Gayo

12 Juli 2026 - 20:02 WIB

Anwar Aras: Gen Z Harus Kuasai Media Digital untuk Menebar Dakwah

12 Juli 2026 - 15:44 WIB

IPC TPK Rayakan 13 Tahun dengan Semangat ESG, Hadirkan Pertumbuhan yang Berdampak Positif

12 Juli 2026 - 07:11 WIB

Gedung GOS Resmi Berubah Fungsi Menjadi Taman Budaya Negeri Gayo

11 Juli 2026 - 12:44 WIB

Bima Alfath Perkenalkan Single “Cinta Tak Bernyawa”, Siap Tampil Perdana di Panggung NEW CELEBRITY

11 Juli 2026 - 12:18 WIB

Akhirnya, Febrie Adriansyah Mundur dari Jampidsus

11 Juli 2026 - 07:53 WIB

Wali Kota Langsa Serahkan Seragam Sekolah Gratis bagi Anak Yatim Piatu di Langsa Lama

11 Juli 2026 - 01:56 WIB

HSBI Peringati Hari Sastra dengan Pentas Seni di Padepokan Mahagenta

11 Juli 2026 - 01:06 WIB

Nina Nugroho Bergabung dengan IKAC, Wujud Pengabdian untuk Kampung Halaman

10 Juli 2026 - 20:41 WIB

Febrie Setelah Digeledah Tegaskan Tidak Mundur, Penanganan Kasus Asabri hingga MBG Tetap Berjalan

10 Juli 2026 - 18:07 WIB

Trending di PERISTIWA