Menu ✖

Mode Gelap
Tanam 10 Pala Tomandin di SMA Don Bosco Fakfak, Siswa Belajar Ketangguhan di Tengah El Nino KAI Services Perkuat Layanan Premium di Balik Perjalanan Nusantara Explorer KKP Percepat Sertifikasi Awak Kapal Perikanan melalui Modernisasi Pelatihan Transjakarta Laut Disiapkan, 3 Pulau Jadi Terminal Utama Juni 2027 Penerapan Biometrik Meluas, dari Registrasi SIM Card hingga Perjalanan Udara Maulid Nabi di YPL Al-Hidayah, Siswa Diajak Meneladani Empat Sifat Rasulullah

EKOBIS

SCI Nilai Pertumbuhan Ekonomi 5,61% di Kuartal 1-2026 Buktikan Ketahanan Nasional

badge-check


 Setijadi Perbesar

Setijadi

Wartatrans.com, BANDUNG – Supply Chain Indonesia (SCI) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 sebesar 5,61% (y-on-y) menunjukkan daya tahan ekonomi nasional yang cukup baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDB atas dasar harga berlaku triwulan I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun dan PDB atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.447,7 triliun.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 13,14 persen, diikuti Jasa Lainnya 9,91 persen serta Transportasi dan Pergudangan 8,04 persen. Industri Pengolahan sebagai sektor terbesar tumbuh 5,04 persen.

“Namun, kontraksi 0,77 persen secara triwulanan (q-to-q) mengindikasikan penguatan kualitas pertumbuhan diperlukan agar tidak terlalu bertumpu pada faktor musiman dan konsumsi domestik,” tutur Founder & CEO SCI Setijadi, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, pertumbuhan transportasi dan pergudangan yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan aktivitas logistik menjadi salah satu penggerak penting ekonomi.

Namun, peningkatan aktivitas tersebut harus diikuti efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, integrasi antarmoda, dan digitalisasi rantai pasok.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan masih ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen dan berkontribusi 54,36 persen terhadap PDB.

PMTB tumbuh 5,96 persen, sedangkan ekspor barang dan jasa hanya tumbuh 0,90 persen, jauh di bawah impor barang dan jasa yang tumbuh 7,18 persen.

“Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi masih perlu diperkuat dari sisi produktivitas industri dan daya saing ekspor,” ujarnya.

Untuknya, SCI merekomendasikan pemerintah memperkuat konektivitas logistik dari sentra produksi ke pasar dan pelabuhan, mempercepat digitalisasi layanan logistik, serta mendorong pengembangan pusat konsolidasi barang di luar Jawa.

Hal ini penting karena struktur ekonomi masih terkonsentrasi di Jawa dengan kontribusi 57,24 persen, meskipun Bali-Nusa Tenggara dan Sulawesi mencatat pertumbuhan tinggi masing-masing 7,93 persen dan 6,95 persen.

Perkembangan Ekspor dan Impor

Pada perdagangan internasional, BPS mencatat ekspor Januari-Maret 2026 mencapai USD66,85 miliar atau hanya naik 0,34 persen, sementara ekspor Maret 2026 turun 3,10 persen secara tahunan menjadi USD22,53 miliar.

Sebaliknya, impor Januari-Maret 2026 naik 10,05 persen menjadi USD61,30 miliar, terutama didorong impor bahan baku/penolong dan barang modal.

Neraca perdagangan masih surplus USD5,55 miliar, tetapi lebih rendah dibanding surplus Januari-Maret 2025 sebesar USD10,91 miliar.

Setijadi menilai, penurunan ekspor Maret perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi pelemahan berkepanjangan.

“Ekspor nonmigas masih ditopang industri pengolahan yang naik 3,96 persen, tetapi ekspor pertanian turun 32,18 persen dan pertambangan turun 11,17 persen,” katanya.

Di sisi lain, kenaikan impor barang modal dapat menjadi indikasi ekspansi kapasitas produksi, namun harus dikawal agar berdampak pada peningkatan produktivitas dan ekspor bernilai tambah.

SCI juga merekomendasikan pemerintah dan pelaku usaha memperkuat hilirisasi, diversifikasi pasar ekspor, konsolidasi muatan ekspor, efisiensi pelabuhan, serta layanan logistik ekspor yang lebih kompetitif.

Kenaikan impor bahan baku dan barang modal perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional, memperdalam rantai pasok domestik, dan mengurangi ketergantungan impor dalam jangka menengah. (omy)

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menara Astra Terapkan AI, Konsumsi Energi HVAC Ditargetkan Turun 10%-20%

1 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi

1 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Pangkas Rugi 23,2%, Garuda Lulus Uji di Tengah Beban Avtur Global

1 Oktober 2026 - 08:12 WIB

BNI Apresiasi Pembinaan PBSI, Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali di Asian Games 2026

30 September 2026 - 10:44 WIB

Koperasi Syariah Indonesia Dibawa ke Forum Internasional IICF 2026

30 September 2026 - 07:31 WIB

Perkuat Ekonomi Pesisir, Terminal Teluk Lamong Raih Penghargaan CSR & PDB Awards 2026

29 September 2026 - 23:00 WIB

FIFGROUP Raih Penghargaan sebagai Trusted & Populer Brand 2026

29 September 2026 - 22:43 WIB

Dari Sabut Kelapa ke Harapan Baru, Iga Rangkul Anak Putus Sekolah

29 September 2026 - 02:59 WIB

ASDP Perkuat Konektivitas di Kepulauan Nias Selatan dengan Operasikan KMP Hafamati HF

27 September 2026 - 21:41 WIB

IDSurvey Resmikan Desa Binaan Nglarangan, Perkuat Ekonomi Masyarakat

27 September 2026 - 20:57 WIB

Trending di EKOBIS