Wartatrans.com, JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat layanan perkeretaapian yang telah beroperasi di wilayah Divisi Regional (Divre) I Sumatera Utara, termasuk meningkatkan kapasitas perawatan sarana di Balai Yasa Pulubrayan, Medan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan layanan kepada masyarakat sekaligus menyiapkan dukungan teknis dan data bagi kajian pengembangan konektivitas kereta api Sumatera Utara–Aceh.
Rencana pengembangan konektivitas menuju Aceh hingga kini masih berada pada tahap kajian dan menunggu keputusan pemerintah.
Berbagai aspek masih perlu dikaji secara komprehensif, mulai dari kebutuhan mobilitas masyarakat, potensi ekonomi, keselamatan, kesiapan infrastruktur, pola operasi, tata ruang, dampak sosial dan lingkungan, pembiayaan, hingga integrasi dengan jaringan yang sudah beroperasi.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan perseroan siap mendukung proses tersebut sesuai penugasan yang diberikan pemerintah.
“Konektivitas Sumatera Utara–Aceh masih berada dalam proses kajian. KAI dapat memberikan dukungan berupa data operasi, kebutuhan sarana, proyeksi pelayanan, dan kemampuan teknis. Sementara proses tersebut berjalan, prioritas kami adalah memastikan layanan yang telah digunakan masyarakat di Sumatera Utara tetap aman dan andal,” ujar Anne.
Saat ini, jaringan aktif di wilayah Divre I Sumatera Utara mencakup lintas sepanjang 476,460 kilometer dengan 43 stasiun aktif yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Jaringan tersebut melayani mobilitas penumpang dan distribusi logistik ke berbagai daerah seperti Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Kisaran, Tanjungbalai, Rantauprapat, Belawan, Kuala Tanjung, hingga Bandara Kualanamu.
Keberadaan jaringan tersebut menjadi dasar untuk memetakan pola perjalanan masyarakat, pusat permintaan layanan, kebutuhan operasional, serta potensi integrasi dengan pelabuhan, kawasan industri, sentra perkebunan, dan pusat pertumbuhan ekonomi lainnya.
Pada Semester I 2026, KAI Divre I Sumatera Utara melayani sebanyak 1.391.120 pelanggan atau meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 1.328.372 pelanggan.
Secara bulanan, jumlah pelanggan tercatat sebanyak 233.133 pelanggan pada Januari, 200.042 pelanggan pada Februari, 265.081 pelanggan pada Maret, 221.254 pelanggan pada April, 235.824 pelanggan pada Mei, dan 235.786 pelanggan pada Juni 2026.
Peningkatan jumlah pelanggan juga terlihat pada sejumlah layanan utama. KA Sribilah Utama dan KA Sribilah Fakultatif relasi Medan–Rantauprapat pp melayani 419.637 pelanggan, naik 8 persen dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai 387.459 pelanggan.
Sementara itu, KA Putri Deli relasi Medan–Tanjungbalai pp melayani 649.892 pelanggan atau tumbuh 2 persen dibandingkan 639.839 pelanggan pada tahun sebelumnya. Adapun KA Siantar Ekspres relasi Medan–Pematangsiantar pp melayani 272.759 pelanggan, meningkat 9 persen dibandingkan 251.088 pelanggan.
Ketiga layanan tersebut menyumbang sekitar 96,5 persen dari total pelanggan Divre I Sumatera Utara selama Semester I 2026, yang menunjukkan tingginya kebutuhan perjalanan masyarakat antara Kota Medan dan sejumlah pusat aktivitas di wilayah timur Sumatera Utara.
“Pertumbuhan pelanggan menjadi data penting dalam merencanakan kapasitas dan pola pelayanan. Setiap rencana pengembangan jaringan harus disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat, kelayakan operasi, serta manfaat ekonomi dan sosial yang dapat dihasilkan,” kata Anne.
Keandalan operasional di Sumatera Utara juga ditopang oleh Balai Yasa Pulubrayan yang telah menjalankan fungsi perawatan sarana sejak 1915. Fasilitas ini menangani perawatan berat lokomotif, kereta penumpang, kereta pembangkit, gerbong barang, hingga peralatan khusus.
Selama Semester I 2026, Balai Yasa Pulubrayan berhasil menyelesaikan perawatan berat terhadap lima lokomotif, 18 kereta penumpang, 102 gerbong barang, tiga kereta pembangkit, dan satu peralatan khusus. Total 129 sarana tersebut memenuhi 100 persen target program perawatan semester pertama tahun ini.
Proses perawatan dilakukan berdasarkan siklus 24 bulan hingga 72 bulan sesuai jenis sarana dan ketentuan teknis yang berlaku. Pekerjaan meliputi pemeriksaan dan perbaikan mesin, struktur, sistem pengereman, perangkat roda dan bogie, kelistrikan, interior, hingga pengujian fungsi sebelum sarana kembali dioperasikan.
Selain itu, Balai Yasa Pulubrayan juga melakukan modifikasi dua kereta ekskonservasi menjadi kereta penolong untuk mendukung penanganan kondisi darurat di lintas. Pekerjaan tersebut mencakup penyesuaian struktur, instalasi kelistrikan, partisi, plafon, ventilasi, dan perangkat pendukung lainnya.
“Balai Yasa Pulubrayan menjaga ketersediaan sarana bagi layanan penumpang dan barang di Sumatera Utara. Kapasitas perawatan ini perlu dijaga dan dikembangkan secara bertahap mengikuti kebutuhan operasi serta arah kebijakan pemerintah,” ujar Anne.
Keandalan sarana tersebut turut mendukung layanan selama periode libur sekolah. Pada 20 Juni hingga 5 Juli 2026, layanan kereta api di wilayah Divre I Sumatera Utara melayani 141.799 pelanggan. Dari jumlah tersebut, Stasiun Medan mencatat 49.403 pelanggan berangkat dan 51.374 pelanggan tiba.
Pada periode yang sama, program diskon transportasi sebesar 30 persen diterapkan pada KA Sribilah Fakultatif relasi Medan–Rantauprapat pp. Selama masa libur sekolah, layanan tersebut digunakan oleh 9.044 pelanggan dan seluruhnya memperoleh potongan tarif.
“Pemanfaatan promo KA Sribilah Fakultatif memperlihatkan kebutuhan perjalanan yang kuat antara Medan dan Rantauprapat. Program pelayanan seperti ini tetap harus didukung kesiapan sarana, petugas, stasiun, dan pengaturan perjalanan yang baik,” kata Anne.
Secara nasional, program diskon transportasi selama libur sekolah dimanfaatkan oleh 1.303.191 pelanggan atau meningkat sekitar 11 persen dibandingkan periode serupa tahun 2025 sebanyak 1.173.612 pelanggan. Adapun total pelanggan KAI pada periode 20 Juni–5 Juli 2026 mencapai 3.451.031 pelanggan, tumbuh sekitar 4 persen dibandingkan periode sebelumnya.
KAI menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan terkait dalam memberikan data dan masukan teknis bagi kajian konektivitas Sumatera Utara–Aceh. Hingga saat ini belum ada keputusan terkait pembangunan maupun jadwal operasional karena seluruh proses masih bergantung pada hasil kajian dan kebijakan pemerintah.
“KAI menjaga layanan di Sumatera Utara agar tetap andal sekaligus menyiapkan kemampuan teknis untuk mendukung kebijakan pemerintah. Apabila hasil kajian mengarah pada pengembangan konektivitas menuju Aceh, KAI siap menjalankan peran sesuai kewenangan dan penugasan yang diberikan,” tutup Anne.(fahmi)






























