Menu

Mode Gelap
Dampak Karhutla, AirNav Perketat Pantauan Ruang Udara Kalimantan Tenggat Pemenuhan Kewajiban Pelindungan Sisa Kuota Selular 28 September Percepat Urai Kepadatan, ASDP Maksimalkan Operasional Kapal di Pelabuhan Ketapang Pertamina Perluas Layanan SAF di 5 Lokasi LCT Legenda Nusantara 699 Terbakar di Perairan Kabaena, 13 Awak Kapal Berhasil Dievakuasi Volume Pengguna KRL di Sudirman Baru Naik 281 Persen, KAI Commuter Perkuat Fasilitas

BANDARA

Dampak Karhutla, AirNav Perketat Pantauan Ruang Udara Kalimantan

badge-check


 Dirut AirNav Indonesia Perbesar

Dirut AirNav Indonesia

Wartatrans.com, TANGERANG – AirNav Indonesia memperketat pemantauan kondisi ruang udara secara menyeluruh, khususnya terkait perubahan jarak pandang (visibility) dan kondisi meteorologi yang berpotensi memengaruhi keselamatan operasional dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan.

“Hingga saat ini, dilaporkan semakin meluas dan terus memberikan dampak signifikan terhadap operasional penerbangan,” jelas Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, kondisi atmosfer dan jarak pandang yang dinamis memerlukan pemantauan secara berkelanjutan.

Hal tersebut agar informasi yang dibutuhkan untuk mendukung keselamatan penerbangan dapat tersedia secara cepat dan akurat.

“Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami. Dalam menghadapi kondisi kabut asap seperti saat ini, AirNav terus melakukan pemantauan terhadap kondisi ruang udara, termasuk perubahan jarak pandang, kondisi cuaca, serta informasi meteorologi lainnya,” urainya.

Informasi tersebut  dikoordinasikan dengan seluruh stakeholder terkait untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional.

Berdasarkan pantauan hari ini hingga pukul 11.57 WIB, kondisi terdampak kabut asap paling signifikan terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat, dengan jarak pandang turun drastis hingga 600 meter.

Kondisi ini menyebabkan seluruh penerbangan mengalami keterlambatan (delay).

Satu penerbangan tujuan Jakarta-Pontianak terpaksa melakukan return to base (RTB) atau kembali ke bandara asalnya.

“Sementara itu, penerbangan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah masih berjalan normal dengan jarak pandang aman di sekitar 3.500 meter,” ujar Avirianto.

Sehari sebelumnya, dampak kabut asap juga sempat memasuki wilayah udara Kalimantan Utara.

Sebagai dampak, jarak pandang di Bandara Juwata, Tarakan, sempat merosot tajam ke rentang 1.000–5.000 meter.

Hal ini mengakibatkan satu penerbangan terpaksa dialihkan (divert) ke bandara terdekat, serta tiga penerbangan lainnya sempat tertunda (delay).

Pada hari yang sama, penurunan visibilitas ekstrem akibat akbut asap juga tercatat di beberapa bandara perintis Kalimantan.

Antara lain di Malinau, jarak pandang sempat menyentuh 2.000 meter yang menyebabkan satu penerbangan perintis dialihkan (divert).

Kemudian di Bandara Long Apung, jarak pandang saat itu hanya berkisar 150-300 meter. Demikian halnya di Bandara Tanjung Harapan, berada di kisaran 400-1.000 meter.

”Tetapi hari ini (2/9), kondisi di Kalimantan Utara terpantau mulai membaik, dengan jarak pandang yang meningkat hingga di kisaran 3.000–5.000 meter,” imbuhnya.

Erupsi Gunung Sinabung

Menurutnya, tidak hanya melakukan pemantauan terhadap dampak kabut asat karhutla, pemantauan juga dilakukan Airnav terhadap dampak erupsi Gunung Sinabung di Sumatra Utara.

Hari ini, operasional penerbangan di Bandara Kualanamu kembali normal. Tidak ada abu vulkanik yang menutupi jalur penerbangan.

”Jadi, pemantauan dilakukan oleh Airnav  secara menyeluruh untuk memastikan bahwa seluruh ruang udara aman untuk dilintasi. Jika ada potensi gangguan apa pun, sesuai prosedur, kami akan secepatnya merilis informasi tersebut kepada pilot dan maskapai penerbangan. Langkah ini untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional,” jabar Avirianto.

Hal ini ditegaskannya, karena keselamatan penerbangan adalah prioritas utama. (omy)

Baca Lainnya

Pertamina Perluas Layanan SAF di 5 Lokasi

2 September 2026 - 17:06 WIB

Harga Avtur Naik Lagi, Kemenhub Sesuaikan Besaran Maksimal Fuel Surcharge Penerbangan Domestik

2 September 2026 - 14:26 WIB

Garuda Indonesia dan Citilink Perkuat Sinergi Pengembangan Bisnis Logistik

2 September 2026 - 10:49 WIB

Indonesia Luncurkan Logo Pencalonan Kembali sebagai Anggota Dewan ICAO

31 Agustus 2026 - 17:27 WIB

Bandara Soekarno-Hatta Masuk 10 Besar Dunia versi APH, Banyak Pilihan Kulinernya!

31 Agustus 2026 - 16:34 WIB

Hadapi Manila Digger, Persib Pangkas Waktu Perjalanan dari Bandara Husein

31 Agustus 2026 - 09:16 WIB

Dirjen Perhubungan Udara Tinjau Bandara Terdampak Gempa NTT

30 Agustus 2026 - 16:16 WIB

Kemenhub Gelar Rakorwil, Perkuat Aksesibilitas Penerbangan di Papua

30 Agustus 2026 - 07:21 WIB

Agnez Mo Inspirasi Perdana di Indonesia Berkarya Besutan InJourney Airports

29 Agustus 2026 - 16:33 WIB

PTDI Naikkan Produksi Pesawat N219 12 Unit Setahun

29 Agustus 2026 - 09:17 WIB

Trending di KABIN