Wartatrans.com, JAMBI – Sejumlah penumpang Bus Putra Pelangi lintas Sumatra mengeluhkan buruknya pelayanan setelah perjalanan dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah menuju Pulau Jawa dan sejumlah daerah di Sumatra mengalami berbagai kendala di tengah perjalanan.
Salah seorang penumpang, Azam Pegayon, mengaku telah berada di perjalanan selama lima hari sejak berangkat dari Terminal Paya Ilang, Takengon, pada 25 Juni 2027 pukul 19.00 WIB. Hingga kini, rombongan penumpang baru tiba di wilayah Jambi.

Menurutnya, beberapa jam setelah berangkat, bus yang mereka tumpangi mengalami kerusakan di Aceh Timur.
Kaki-kaki dan ban belakang mengalami kerusakan sehingga bus tidak dapat melanjutkan perjalanan.
“Setelah itu kami dipindahkan ke bus lain dari Lhokseumawe, tetapi bus tersebut juga mengalami kerusakan di daerah Langsa karena mesin panas dan berhenti selama beberapa jam,” ujarnya.
Penderitaan penumpang belum berakhir. Setelah tiba di Medan, mereka kembali menghadapi kemacetan parah hingga delapan jam sebelum memasuki Pekanbaru. Selain itu, antrean panjang di SPBU akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar membuat perjalanan kembali tertunda.
Di tengah perjalanan, kabar duka juga menyelimuti para penumpang.
Seorang nenek asal Aceh yang sedang melakukan perjalanan bersama anak dan cucunya dilaporkan meninggal dunia saat berada di wilayah Bagan Batu dan sempat dibawa ke rumah sakit.
Setelah melanjutkan perjalanan menuju Jambi, bus kembali mengalami kerusakan. Kali ini, kopling kendaraan rusak di daerah Merlung dan suku cadangnya harus didatangkan dari Kota Jambi.
Hingga berita ini ditulis, para penumpang mengaku telah terdampar selama sehari semalam di lokasi tersebut tanpa fasilitas yang memadai.
Tidak tersedia warung maupun tempat istirahat yang layak bagi penumpang, termasuk anak-anak dan lansia.
Para penumpang berharap manajemen Bus Putra Pelangi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu bus kebanggaan masyarakat Aceh di lintas Sumatra, dapat melakukan peremajaan armada dan servis berkala agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami sangat dirugikan. Selain kehilangan waktu, biaya makan selama di perjalanan juga semakin besar.
Perusahaan seharusnya dapat memberikan solusi dan tanggung jawab kepada para penumpang,” ungkap salah seorang penumpang.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena keterlambatan perjalanan dan kerusakan berulang tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan penumpang.*** (Kamaruzzaman)






























