Wartatrans.com, JAKARTA – Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) meluncurkan buku Indonesia Aviation Outlook 2026, Strategic Plan & Investment Opportunities sekaligus mendiskusikan di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Acara tersebut dihadiri stakeholder penerbangan nasional dan internasional baik dari regulator, operator, pabrikan pesawat dan pendukungnya, asosiasi pengguna jasa penerbangan serta media massa.

Regulator yang hadir di antaranya dari direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata.
Sedangkan operator yang hadir maskapai penerbangan anggota INACA, pengelola bandara/ InJourney Airport, AirNav Indonesia, Pertamina Patra Niaga, AKR, Groundhandling, Boeing, Embraer, IBS Software, asuransi terkait penerbangan dan yang lainnya.
Acara peluncuran buku oleh Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja bersama dengan Direktur Angkutan Udara, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agustinus Budi Hartono.

Diskusi buku diisi dengan para panelis di antaranya Bayu Sutanto, Sekretaris Jenderal (INACA) Indonesia Aviation Outlook 2026: Strategic Plan & Investment Opportunities, Agustinus Budi Hartono, Direktur Angkutan Udara (Kemenhub) Kebijakan Pemerintah dalam Menjaga Keberlanjutan Industri Veri Y. Setiadi, Direktur Komersial PT Angkasa Pura Indonesia (Injourney Airport) Peran Bandara dalam Menjaga Konektivitas Nasional Ulul Azmi EVP of Air Navigation Informatika Management AirNav Indonesia Efisiensi Operasional dan Fleksibilitas Settlement.
Hadir juga Budi Setyawan Wijaya Direktur Utama InJourney Aviation Services, Alvin Lie Ketua Umum APJAPI Perspektif dari Pengguna Jasa Angkutan Udara, dan
Dedi Ahmad Kurnia, Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara I, Kementerian Pariwisata dengan moderator Eddy Krismeidi dari Indonesia AirAsia /INACA.
Tantangan yang dihadapi industri penerbangan nasional tahun 2026-2030 di antaranya adalah adanya krisis geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan: Harga avtur meningkat Kurs US Dollar naik
Penerbangan ke Timur Tengah terganggu.
Sedangkan peluang yang bisa didapatkan industri penerbangan nasional tahun 2026-2030 adalah: Kebijakan pemerintah yang responsif terkait harga avtur dengan kebijakan fuel surcharge yang fleksibel.
Mulai dilakukan pembahasan revisi Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB).
Kebijakan penurunan harga tiket melalui pengurangan biaya-biaya yang ditanggung pemerintah pada waktu peak season (Lebaran, Nataru, Libur sekolah dll) dengan penghapusan/ pengurangan PPN, PJP4U, PJP2U (airport tax).
Terkait dengan hal tersebut, Ketua Umum INACA (Indonesia National Air Carriers Association), Denon Prawiraatmadja mengatakan, industri penerbangan nasional dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Pengembangan industri penerbangan tidak dapat dilakukan secara parsial. Kolaborasi erat antara Authority, Airlines, Airport, Air Navigation atau yang biasa disebut 4A beserta pemangku kepentingan lainnya seperti pabrikan pesawat, penyedia bahan bakar, asuransi, groundhandling hingga akademisi, media massa dan masayarakat menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem penerbangan yang kuat,” urainya.
Para pemangku kepentingan perlu mulai menyusun strategi jangka panjang untuk menghadapi kebutuhan dan tantangan industri dalam 10 hingga 20 tahun mendatang untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. (omy)






























